Aplikasi Samsung membantu penderita tuna netra bisa melihat kembali


Tahun lalu, sebuah data statistik aneh menarik perhatian Cho Jung-hoon, seorang engineer di Samsung Electronics. Dalam survei yang diadakan oleh pemerintah Korea Selatan ini, ditemukan bahwa 92 persen orang dengan gangguan penglihatan sangat menikmati saat menonton televisi sebagai hiburan favorit mereka.

"Pada saat itu, saya pikir mungkin ada kesalahan dalam artikel tersebut, namun ternyata saya yang tidak memiliki pengetahuan dasar mengenai gangguan penglihatan," kata engineer berusia 44 tahun tersebut mengatakan dalam sebuah briefing media di ruang pers Samsung Electronics di pusat kota Seoul pada hari Jumat kemarin untuk mengungkap aplikasi augmented reality (AR) untuk tuna netra.


Berdasarkan laporan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2010, hanya 14 persen orang tuna netra yang benar-benar buta, sedangkan sisanya 86 persen memiliki kemampuan yang berbeda untuk mendeteksi bentuk cahaya, kegelapan dan kabur. Ilham ini memotivasi Cho Jung-hoon untuk menciptakan perangkat yang bisa membantu mereka yang memiliki kekurangan dalam hal penglihatan.

Dia mengajukan rencana ini ke C-Lab (Creative Lab), inkubator in-house milik Samsung Electronics yang mendukung ide dan gagasan usaha milik karyawan selama setahun. C-Lab memilih gagasan Cho pada bulan Mei tahun lalu setelah penjelasan secara internal dan pemilihan gagasan dari lingkungan perusahaan.

Cho Jung-hoon yang telah bekerja di Samsung selama sembilan tahun, membentuk sebuah tim bernama Gear View & Read, dan hasilnya adalah Relúmĭno, sebuah aplikasi yang mengambil gambar lingkungan yang mengelilingi pengguna dan memperbaikinya untuk tuna netra. Aplikasi ini mengharuskan pengguna untuk memakai headset virtual reality (VR) yang digunakan dalam kombinasi dengan smartphone, namun Samsung mengatakan bahwa headset tersebut, dalam kisaran harga 100.000 won (sekitar 1,2 juta rupiah), masih lebih murah daripada perangkat yang sebanding yang dengan mudah melampaui harga satu juta won.

"Selama penelitian kami, tim kami menemukan bahwa banyak orang yang mengalami gangguan penglihatan masih ragu membeli perangkat optik karena harganya mahal," kata Cho Jung-hoon. "Dan karena lebih dari 70 persen dari mereka menggunakan smartphone, kami pikir akan sangat berguna jika kita bisa menambahkan perangkat lunak di atas itu untuk membantu mereka melihat lebih baik."


Setelah melakukan serangkaian uji coba dengan orang-orang yang mengalami gangguan penglihatan, tim Cho menciptakan filter yang bisa memperbaiki gambar untuk cacat mata tertentu dengan cara memproses gambar dari video yang diproyeksikan melalui kamera belakang smartphone dan membuat gambar menjadi ramah buat tunanetra.

Lebih khusus lagi, fitur utamanya meliputi memperbesar dan memperkecil gambar; Menyoroti garis besar dari gambar; menyesuaikan kontras warna dan kecerahan; membalikkan warna; dan menyaring warna layar. Efek akhirnya adalah bahwa aplikasi 'Relúmĭno' akan memungkinkan orang untuk tertantang secara visual bisa melihat gambar dengan lebih jelas saat mereka membaca buku atau melihat objek tertentu.


Bagi mereka yang menderita blind spot dalam penglihatan atau Tunnel Vision, yaitu hilangnya area pandangan yang membuat mata terfokus seperti diselimuti lorong panjang, 'Relúmĭno' membantu dengan memetakan kembali gambar yang tak terlihat ke tempat di bagian mata yang terlihat. Secara khusus, saat pengguna mengatur blind spot atau tunnel vision untuk penggunaan pertama, aplikasi ini secara otomatis akan menempatkan titik buta di bagian sekitarnya yang terlihat dan menempatkan gambar di dalam 'terowongan' atau jangkauan yang terlihat, sehingga membantu pengguna yang memiliki cacat dalam penglihatannya untuk bisa melihat hal-hal yang lebih baik. Tidak seperti alat bantu penglihatan lainnya yang memiliki kualitas serupa yang seringkali menghabiskan biaya ribuan dolar, pengguna 'Relúmĭno' dapat menikmati fitur setara dengan harga yang jauh lebih terjangkau.

"Ada berbagai kondisi penglihatan yang diidentifikasi sebagai gangguan dan yang menjadi kehebatan dari Relúmĭno adalah bahwa platform ini dapat disesuaikan sesuai dengan kebutuhan setiap individu," kata Kim Chan-hong, seorang guru di Sekolah Hanbit untuk Orang Buta di mana tim Cho melakukan penelitian.

"Relúmĭno akan menjadi pengubah kehidupan bagi 240 juta orang tuna netra di seluruh dunia dan kami menjanjikan dukungan yang kuat dan terus berlanjut," kata Lee Jai-il, wakil presiden dan kepala Samsung Creativity & Innovation Center.

Tugas tim berikutnya adalah membuat kacamata yang bisa menawarkan fungsi yang sama. Tim tersebut menerima umpan balik bahwa headset VR tidak nyaman dipakai di luar rumah.

Biasanya, usaha yang mendapat pendanaan C-Lab akan diserap ke salah satu divisi Samsung atau dilepas sebagai sebuah perusahaan mandiri, namun Samsung Electronics sangat mendukung tim tersebut selama satu tahun untuk proyek kacamata tersebut.


"Kekuatan Samsung Electronics adalah bahwa mereka memiliki struktur yang terorganisir dengan baik, memiliki kepemimpinan yang kuat dan pandai membuat pilihan dan [kemudian] berkonsentrasi pada [pilihan] mereka," kata Lee Jai-il. "Tapi kami pikir itu tidak cukup untuk mempersiapkan masa depan yang cepat berubah, karena itulah kami memutuskan untuk memperkuat organisasi yang lebih kecil dan lebih inovatif."

Karyawan dengan ide bisnis mereka dapat mengajukan permohonan untuk program satu tahun di mana mereka bisa berkonsentrasi dalam mengerjakan gagasan tersebut. Mereka akan memimpin sebuah tim, biasanya terdiri dari tiga sampai tujuh anggota. Prosesnya mirip dengan proses start-up, membuat keputusan cepat dan merevisinya setelah menerima sesi umpan balik dan pendampingan dari Samsung. Di antara 180 tim yang lolos melalui C-Lab sejak 2015, 46 persen diantaranya telah diserap ke perusahaan dan 18 persen terputus. Sisanya meninggalkan proyek di tengah jalan karena hasil jauh dari harapan sebelumnya.

"Pola pikir kita bertujuan untuk rasio kegagalan sampai 90 persen," kata Lee. "Secara obyektif adalah untuk mendorong karyawan menetapkan tujuan yang sulit agar sembilan dari 10 orang akan menyerah di tengah jalan."