Tizen TV 8: Tizen 2.2 UX lebih baik dari Tizen 2.3/2.4 UX?



Saat Samsung Electronics pertama kali memamerkan smartphone Tizen di pameran Mobile World Congress (MWC) 2014, reaksi media sebagian besar sangat positif. Mereka rata-rata memuji user interface (UI) dan user experience (UX) dari prototype smartphone Tizen yang sejatinya sudah siap dirilis ke pasar saat itu.

Media teknologi Engadget misalnya, waktu itu menyebut bahwa smartphone Tizen memiliki fitur yang begitu lengkap dan kaya serta kinerja yang halus dengan user interface (UI) yang fleksibel. Begitu mulusnya kinerja smartphone Tizen waktu itu sampai-sampai situs asal Inggris Pocket-lint mengibaratkannya seperti "mobil Jaguar yang berjalan diatas mentega," dan sangat berbeda dengan TouchWiz yang berat. "Kita tidak bisa mengungkapkan betapa cepat segalanya bergerak," puji Pocket-lint yang terus mengungkapkan kekagumannya.

Trusted Reviews mengatakan bahwa smartphone Tizen telah membebaskan frustasi yang sebelumnya selalu menghantui pengguna Android yang sering merasakan lag. Dan Ron Amadeo dari Arstechnica bahkan berharap beberapa fungsi yang ada di Tizen UX nantinya bisa diadopsi di Android.


Prototype smartphone Tizen yang digunakan adalah Samsung ZeQ yang sedianya akan dirilis di pasar Jepang melalui operator NTT DoCoMo. Samsung ZeQ menggunakan OS Tizen 2.2 UX yang bisa dilihat melalui video berikut:



Samsung ZeQ tidak jadi dirilis oleh NTT DoCoMo dan smartphone Tizen yang dirilis ke pasar adalah Samsung Z1 dan Z3. Saat pertama kali dirilis, Samsung Z1 menggunakan OS Tizen 2.3 dan Samsung Z3 menggunakan OS Tizen 2.4. Antara Tizen versi 2.3 dan 2.4 tidak ada perbedaan yang terlalu signifikan dari sisi user experience (UX). Tizen 2.3 UX bisa dilihat melalui video berikut:




Banyak yang menyebut Tizen 2.2 UX lebih baik karena menawarkan sesuatu yang lebih fresh dan juga lebih fungsional. Sedangkan Tizen 2.3/2.4 UX terlalu mirip dengan TouchWiz UX atau Android UX pada umumnya.

Ron Amadeo dari Arstechnica yang telah mencoba dan mengulas Samsung ZeQ maupun Samsung Z1 mengungkapkan kekecewaannya. Tizen yang di tahun 2014 disebutnya mengesankan (impressive), di Samsung Z1 cuma seperti produk kloning dari Android.

"Kita telah mencoba smartphone Tizen sekitar setahun yang lalu di Mobile World Congress 2014, dan ada sesuatu yang kita tidak mengerti: Tizen telah memburuk selama setahun terakhir. Pada tahun 2014 kami menyebut Tizen "mengesankan," tapi secara harfiah setiap fitur yang kita suka di hands-on kita sebelumnya telah dihilangkan," kata Ron Amadeo.




Menurut Ron Amadeo, Tizen sebelumnya memiliki home screen inovatif yang dikombinasikan dengan widget dan ikon yang begitu fungsional. Tizen sebelumnya juga mengadopsi sistem multi-window secara penuh, dimana jendela aplikasi bisa mengambang diantara aplikasi lainnya dan bisa dirubah ukurannya sesuka hati sehingga kita bisa menjalankan beberapa aplikasi dalam satu layar sekaligus seperti pada PC.

Sebenarnya ada perbedaan pasar yang dituju antara Samsung ZeQ dan Samsung Z1/Z3. Samsung ZeQ adalah smartphone high-end untuk pasar Jepang yang sudah matang (sebagian besar penduduknya adalah pengguna smartphone) dengan target konsumen adalah pengguna smartphone kelas atas. Sedangkan Samsung Z1 dan Z3 adalah smartphone low-end untuk pasar India dan sekitarnya yang masih berkembang (sebagian kecil penduduknya yang sudah menggunakan smartphone) dengan target konsumen adalah pengguna feature phone yang ingin berpindah untuk menggunakan smartphone pertama kalinya.

Sesuai dengan target konsumen yang dituju, pengalaman pengguna di Samsung Z1 dan Z3 dibuat sesederhana mungkin agar tidak membingungkan konsumen sementara juga meperkenalkan fitur-fitur yang ada di smartphone Tizen. Dan jangan salah, walaupun Tizen 2.3/2.4 UX lebih sederhana daripada Tizen 2.2 UX, namun soal kinerja sama-sama cepat, halus (smooth), mulus dan tentunya bebas lag.