Perang OS konvergensi berbasis HTML5 di era 'Internet of Things'


Era komputer personal (PC) ditandai dengan perang antara sistem operasi (OS) Windows dari Microsoft dengan Mac OSX dari Apple. Kedua OS ini semakin tenggelam sejak munculnya era perangkat mobile yang ditandai dengan dominasi OS Android dari Google dan iOS dari Apple. Tidak bertahan lama, sejak 2009 telah muncul era baru yang bernama "Internet of Things" atau sering disingkat dengan IoT yang kemudian menjadi tema utama dan ditandai dengan munculnya OS generasi berikutnya berbasis web seperti TIZEN, webOS dan Firefox OS di pameran teknologi terbesar CES 2014 dan layanan seperti cloud, Big Data dan lainnya.

Apa itu Internet of Things?

Internet of Things merupakan sebuah konsep yang bertujuan untuk memperluas manfaat dari konektivitas internet yang tersambung secara terus-menerus. Adapun kemampuan seperti berbagi data, remote control, dan sebagainya, termasuk juga pada benda di dunia nyata. Contohnya elektronik, komputer, wearable device, perangkat mobile, peralatan apa saja, termasuk benda hidup yang semuanya tersambung ke jaringan lokal dan global melalui sensor yang tertanam dan selalu aktif.

Pada dasarnya, Internet of Things mengacu pada benda yang dapat diidentifikasikan secara unik sebagai representasi virtual dalam struktur berbasis Internet. Istilah Internet of Things awalnya disarankan oleh Kevin Ashton pada tahun 2009 dan mulai terkenal melalui Auto-ID Center di MIT.

Cara kerja Internet of Things yaitu dengan memanfaatkan sebuah argumentasi pemrograman yang dimana tiap-tiap perintah argumennya itu menghasilkan sebuah interaksi antara sesama mesin yang terhubung secara otomatis tanpa campur tangan manusia dan dalam jarak berapa pun. Internetlah yang menjadi penghubung di antara kedua interaksi mesin tersebut, sementara manusia hanya bertugas sebagai pengatur dan pengawas bekerjanya alat tersebut secara langsung.

LG dengan webOS, Panasonic dengan Firefox OS

Dalam pidato pembukaan CES 2014 kemarin, hampir semua pimpinan dari perusahaan elektronik global menyoroti tren global ini. Masing-masing perusahaan akan menciptakan konvergensi dan konektivitas yang lebih baik melalui platform software dan hardware yang terpadu, dan pasar ini diperkirakan akan terus berkembang cepat seiring dengan kebutuhan konsumen akan ekosistem untuk semua perangkat di sekitar mereka.

Dua perusahaan elektronik konsumen terbesar di dunia, Samsung Electronics dan LG Electronics masing-masing akan mengandalkan sistem operasi yang mereka kembangkan sendiri. Samsung jelas akan mengandalkan OS TIZEN dari Linux Foundation, sementara LG baru saja meluncurkan webOS untuk jajaran produk Smart TV terbaru mereka saat berlangsungnya CES 2014. Tidak hanya TV, LG juga berencana untuk menempatkan webOS buat smartphone dan tablet.

"Kami juga ingin membawa webOS pada produk lainnya," kata Samuel Chang dari LG yang bertanggung jawab pada pengembangan webOS dan Smart TV kepada situs Belanda NUTech. "Semua perangkat yang terhubung ke Internet adalah salah satu pilihan yang mungkin [untuk penerapannya]."

Sama seperti TIZEN, webOS adalah sistem operasi berbasis Linux yang mengandalkan aplikasi berbasis web atau HTML5. webOS awalnya adalah OS untuk perangkat mobile yang dikembangkan oleh Palm, yang kemudian diakuisisi oleh Hewlett-Packard (HP). Pada Februari 2013, LG Electronics mengakuisisi webOS dari HP dengan tujuan awal untuk meningkatkan kinerja Smart TV mereka, menggantikan platform NetCast milik mereka sebelumnya dan Google TV berbasis Android yang gagal di pasaran. LG adalah produsen TV terbesar kedua setelah Samsung dalam hal penguasaan pasar.

Salah satu perusahaan elektronik konsumen besar lainnya, Panasonic, saat di CES 2014 juga mengumumkan akan merilis Smart TV generasi berikutnya yang didukung oleh Firefox OS, dan Mozilla dan Panasonic akan bekerja sama untuk mempromosikan Firefox OS dan ekosistem terbuka berbasis HTML5.

"Melalui kemitraan Panasonic dengan Mozilla, kita akan menciptakan inovasi lebih lanjut dalam teknologi dan fitur Smart TV, yang akan membawa konsumen ke tingkat interaksi dan konektivitas yang baru di dalam dan di luar rumah," kata Mr Yuki Kusumi, Direktur Divisi Bisnis TV dari AVC Networks Company di Panasonic.

Menurut Panasonic, semua fungsi dasar dari TV seperti menu dan EPGs (Electronic Program Guide) akan ditulis ulang dalam bahasa HTML5, sehingga memungkinkan bagi pengembang untuk dengan mudah membuat aplikasi untuk smartphone atau tablet untuk mengakses dan mengoperasikan TV dari jarak jauh. Dengan kompatibilitas penuh pada teknologi Web dan standar HTML5, TV masa depan dari Panasonic akan bisa digunakan untuk layanan cloud dan berbagai perangkat jaringan masa depan serta untuk pemantauan dan operasional perangkat di dalam dan di luar rumah, seperti peralatan Smart Home.

HTML5 untuk Smart Home

Ya, Smart Home adalah The Next Big Thing dan merupakan penerapan paling sempurna di era Internet of Things. Hampir semua perusahaan elektronik dan teknologi yang hadir di CES 2014 memiliki mimpi yang sama untuk menerapkan konsep Smart Home menjadi kenyataan melalui berbagai perangkat dan layanan buatan mereka sebagai pertumbuhan berikutnya setelah pasar smartphone mulai jenuh.

Secara khusus, OS generasi berikutnya berbasis HTML5 seperti TIZEN, webOS dan Firefox OS dan teknologi lainnya yang mendukung HTML5 memiliki keuntungan dari 'keterbukaan' yang menjadi standar dari web. Jika Anda membuat konten atau aplikasi HTML5, Anda bisa mengabaikan ketergantungan pada proses optimasi untuk setiap model perangkat yang berbeda seperti TV atau smartphone, untuk memastikan bisa berjalan di semua perangkat.

Kelebihan ini membuat industri Smart Home bisa menerapkan sebuah kesatuan platform yang terpadu yang bisa mengintegrasikan semua perangkat dan mengatasi masalah utama yang muncul pada setiap sistem operasi terkait fragmentasi dan ekosistem.

Salah seorang pejabat industri di CES 2014 mengatakan, "Sebuah OS yang terbuka bisa mengurangi biaya dalam pengembangan aplikasi yang kompatibel antar satu sama lain yang merupakan keuntungan besar bagi ekosistem Smart TV," katanya "Khususnya dalam pelaksanaan integrasi platform Smart Home yang dilengkapi dengan OS sendiri, akan bisa memperluas aspek pengembangan produk," katanya.