Samsung akan menggabungkan bada dengan Tizen


Samsung mengatakan akan bekerja pada penggabungan sistem operasi smartphone bada dengan Tizen, sebuah proyek sistem operasi hasil kerjasama dengan pembuat chip Intel.

"Kami akan berusaha untuk menggabungkan bada dan Tizen," kata Kang Tae-jin, Senior Vice President of Samsung’s Contents Planning Team dalam sebuah wawancara di pameran teknologi Consumer Electronics Show (CES) 2012 dengan Elizabeth Woyke, staf wanita keturunan Korea dari Forbes. Kang mengatakan ia tidak tahu kapan pekerjaan itu akan lengkap tetapi itu sudah berlangsung.

Ketika integrasi selesai, Tizen akan mendukung aplikasi mobile yang dibuat dengan bada SDK (software development kit). Dukungan yang akan mencakup "backwards compatibility" untuk aplikasi bada yang telah diterbitkan sebelumnya.

Kang mengatakan bahwa selama pasca-integrasi, pengembang bada dan Tizen akan diberikan tool software yang sama (SDK dan API). Idenya adalah bahwa jika pengembang tahu bagaimana program di bada, mereka akan mengerti juga bagaimana membuat aplikasi Tizen.

Pernyataan Kang ini sangat menarik karena pengamat industri telah lama bertanya-tanya bagaimana raksasa teknologi Korea akan "menyulap" banyak sistem operasi. Samsung mendukung setidaknya empat sistem operasi mobile dan memiliki setidaknya dua sistem operasi untuk TV yang berbeda.

Ada juga banyak spekulasi industri tentang nilai Samsung terus mengembangkan bada dan alasan Samsung terlibat dalam Tizen, sebuah konsorsium industri yang memproduksi sistem operasi open source. Proyek Tizen, yang menggabungkan beberapa teknologi dari Samsung Linux Platform (SLP) dan proyek lama Intel Moblin (yang kemudian digabung dengan Maemo dari Nokia menjadi MeeGo) ini dimulai pada September 2011 dengan pengumuman ke publik.

Selama ini Samsung menggunakan platform Google Android untuk smartphone dan tablet. Samsung juga memproduksi beberapa ponsel yang berjalan di platform Windows Phone dari Microsoft. Sampai sekarang Samsung telah menemukan cara yang efektif untuk memanfaatkan sistem operasi luar ini, dimana mereka telah menjadi penyedia smartphone global terbesar dan pembuat ponsel terbesar dunia secara keseluruhan. Dan berfokus pada OS sendiri di masa yang akan datang akan memberikan Samsung kontrol yang lebih luas kepada perangkat dan kesempatan yang lebih untuk membedakan produknya dari para pesaingnya.

Sejak diluncurkan pada tahun 2010, bada (yang berarti "samudra" dalam bahasa Korea) telah menemukan traksi yang mengejutkan, terutama mengingat kenyataan bahwa perangkatnya hanya tersedia dalam pasar tertentu diluar Amerika. Pada tahun 2011, smartphone bada memiliki pangsa sekitar 2% dari pasar smartphone global, lebih besar dari jumlah yang dimiliki oleh Microsoft Windows Phone.

Dengan penggabungan bada dan Tizen, Samsung berharap bisa memasuki komunitas bada yang ada, termasuk ribuan pengembang aplikasi bada yang sudah ada. Disamping fakta adanya kesamaan dasar antara dua sistem operasi ini, seperti keduanya sama-sama berbasis Linux. Kang mengatakan kalau inti dari OS merger ini akan berbasis Linux juga.

Samsung masih akan memutuskan bagaimana tepatnya untuk memanfaatkan bada dan Tizen dalam produk mendatang. Kang mengatakan bada mungkin akan dikerahkan untuk ponsel Samsung yang bertenaga rendah, seperti misalnya yang dijalankan pada prosesor single-core. Bada juga bisa diterapkan untuk perangkat non-ponsel seperti perangkat hiburan dirumah dan alat-alat rumah tangga. "Kami belum memutuskan jalan keluarnya," kata Kang. Tizen akan lebih cocok untuk perangkat bertenaga tinggi yang tidak berjalan pada Android atau Windows Phone, katanya. Kelihatannya memang Tizen akan digunakan untuk bertarung dengan smartphone high-end Android dan Windos Phone.

Bada/Tizen pada akhirnya akan memberi kekuatan pada banyak produk Samsung yang akan datang, namun transisi ini tentu akan memakan waktu. Kang mengatakan Tizen mungkin akan menemukan jalan untuk "setidaknya satu hingga dua" perangkat Samsung tahun ini. "Tizen tidak akan menjadi platform operasi utama Samsung dalam waktu dekat," tambahnya.