Samsung ingin bangkitkan kembali platform sosial media jaman dulu


Samsung tidak pernah memupuskan mimpinya untuk bisa memiliki platform jejaring sosial atau sosial media sendiri. Kini mereka siap menghidupkan kembali sebuah platform sosial media yang pernah jaya pada era sebelum Facebook lewat investasi senilai 60 miliar.

Cabang dari Samsung Group yang berwenang melakukan investasi pada startup atau perusahaan lain, Samsung Venture Investment Corporation, hari ini diketahui telah berinvestasi di Cyworld, sebuah layanan jejaring sosial generasi awal yang pernah jaya di Korea pada awal tahun 2000an sebelum akhirnya terus menurun dan sekarat sejak kehadiran Facebook.

Sekitar 5 miliar won (kurang lebih 60 miliar rupiah) telah disuntikkan oleh Samsung Venture ke dalam Cyworld, meski Samsung menolak untuk mengkonfirmasi jumlah pasti. Dan ini untuk pertama kalinya perusahaan tersebut berinvestasi di penyedia layanan platform seperti Cyworld.

Kini, dapatkah Samsung membawa kembali masa-masa kejayaan dari Cyworld yang sudah ketinggalan jaman?

Sebelumnya Samsung pernah meluncurkan ChatOn pada bulan Oktober 2011. Aplikasi perpesanan ini tersedia dalam berbagai platform dan sistem operasi seperti iOS, Android, Windows Phone, Blackberry, bada, smartphone, feature phone, smart TV hingga desktop PC, dan sempat merengkuh kejayaan pada tahun 2013 dengan memiliki lebih dari 100 juta pengguna, sebelum akhirnya ditutup pada awal 2015.

Kemudian pada tahun 2013 Samsung meluncurkan layanan jejaring sosial untuk berbagi foto, perpesanan dan pengingat jadwal yang disebut Family Story. Tujuannya adalah sebagai platform berbagi berita dan kenangan dengan anggota keluarga dan teman yang jauh agar bisa tetap berhubungan lebih dekat. Aplikasi ini sempat dirilis untuk platform Smart TV dan smartphone Samsung, namun tidak pernah bisa menyamai popularitas dari ChatOn sebelum akhirnya ditutup juga.

Cyworld (μ‹Έμ΄μ›”λ“œ), sebagai platform, berpotensi digunakan sebagai sumber dari sistem AI milik Samsung yang dapat menarik konten seperti laporan berita dan musik. Oleh karena itu, pengamat industri di Korea menebak bahwa investasi yang dilakukan oleh Samsung tersebut merupakan langkah strategis untuk lebih mengembangkan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) miliknya, seperti pada layanan asisten virtual Bixby dan smart speaker.

Skenario yang akan dijalankan oleh Samsung bisa serupa dengan Naver dengan menggunakan konten dan big data yang dikumpulkan oleh situs portalnya dan juga aplikasi perpesanan LINE untuk memperkuat sistem AI Clova miliknya dan speaker pintar Wave yang bisa berfungsi sebagai asisten virtual, untuk dirilis di pasar Korea selama kuartal ketiga.

Ada juga kesempatan bahwa Cyworld, yang merupakan pelopor dalam membangun platform jejaring sosial di awal tahun 2000an, untuk bisa sekali lagi menghasilkan layanan baru yang unik yang didukung oleh teknologi dan sumber daya milik Samsung.

"Samsung Venture Investment Corporation telah mencari dan berinvestasi secara terus-menerus pada startup yang menjanjikan dan Cyworld adalah salah satu perusahaan tersebut," kata juru bicara dari Samsung Electronics. "Belum ada yang bisa dikonfirmasi mengenai peluang bisnis kolaboratif seperti apa yang bisa diciptakan antara Samsung dan Cyworld."


Cyworld menikmati masa keemasannya di awal tahun 2000an, setelah memulai operasinya pada tahun 1999. Pertama kali muncul dengan apa yang disebut layanan "mini homepage" buat pengguna dari platform ini. Mini homepage adalah sebuah ruang blog individu mirip dengan halaman profil Facebook sekarang, dan orang bisa menghias ruang pribadi mereka dengan avatar "mini me" yang stylish.

Pengguna Cyworld mencapai puncaknya pada tahun 2010 sebanyak 32 juta orang, dengan 14 miliar foto dan 500 juta lagu streaming di layanan microblogging mereka, sehingga platform tersebut bisa meraih pendapatan senilai 109 miliar won dengan menjual avatar dan musik untuk dimainkan di ruang blog penggunanya.

Namun, situs web tersebut telah mengalami penurunan sejak 2011 saat mengalami peretasan dan beberapa informasi pribadi pengguna dikabarkan telah bocor. Dilain pihak, layanan internasional baru seperti Facebook, Twitter dan Instagram terus bergerak dengan cepat sementara Cyworld lamban dalam beradaptasi dengan berkembangnya perangkat mobile yang membutuhkan interface yang berbeda dengan desktop PC.

Cyworld kemudian diakuisisi oleh SK Communications, anak perusahaan penyedia layanan seluler papan atas Korea SK Telecom, pada tahun 2003, namun kemudian dilepas kembali pada tahun 2014. Layanan ini hampir ditutup pada tahun 2016, walaupun pada akhirnya mau digabungkan dengan penyedia layanan jejaring sosial berbasis live video AirLive di bulan Juli tahun lalu.

Sementara itu, pihak Cyworld masih berusaha untuk mendinginkan rumor yang beredar tentang kemungkinan kemitraan dengan Samsung Electronics. Menurut seorang pejabat dari Cyworld, prioritas utama perusahaannya saat ini adalah "membangkitkan kembali layanannya sendiri."

"Masih terlalu dini untuk memikirkan kolaborasi dengan Samsung untuk layanan buat smartphone saat ini," kata pejabat tersebut.

Namun tak urung kabar ini telah membuat netizen Korea Selatan yang sekarang berusia 30-an dan 40-an tahun, yang dulu merupakan pengguna utama dari platform Cyworld, untuk terjebak dalam nostalgia yang indah.

"Di zaman saya, Cyworld adalah platform yang dominan dan teman-teman saya sekarang menunggu untuk melihat apakah Cyworld dapat mengubah dirinya sendiri dengan investasi baru," kata Jo Eun-nam, seorang penduduk Seoul berusia 30 tahun.