Samsung Connected World akan meluncur dalam skala besar


"Samsung akan memimpin sebuah revolusi perangkat dalam skala besar," kata Patrick Chomet, Wakil Presiden Eksekutif untuk Produk dan Inovasi di Samsung Electronics, saat berlangsungnya jumpa pers pada hari Rabu (24/8) kemarin di Hotel Pierre, Manhattan, New York, setelah peluncuran Galaxy Note8 sehari sebelumnya di Park Avenue Armory. Dia menjelaskan tentang prospek pasar dari Internet of Things (IoT) dan berdiskusi mengenai strategi perusahaannya di era konektivitas ini.

Patrick Chomet bergabung dengan Samsung Electronics pada bulan November 2016 setelah bekerja selama 12 tahun di Vodafone Group Inggris sebagai Direktur dari Terminal Terpadu. Saat ini, dia bertanggung jawab untuk strategi dan perencanaan produk nirkabel dan bisnis terkait di Samsung seperti smartphone, tablet, dan wearable.

Dia menekankan bahwa konvergensi sangat penting karena kekuatan pasar IoT terbagi menjadi sensor, modul, daya komputasi, layar, kecerdasan buatan, dan arsitektur berbasis awan.

"Di dunia yang konvergen, konsumen akan dapat mengakses konten yang sama pada perangkat apapun," kata Chomet. Misalnya, Anda bisa membaca buku cerita di rumah untuk dilanjutkan lewat layar ponsel di bus. "Banyak perusahaan yang mengejar konvergensi dari produk mereka. Google bergerak dari bisnis pencarian ke bisnis konten dan musik, dan Amazon memperluas usahanya dari jualan buku."

"Samsung memiliki kepemimpinan yang akan mendorong sebuah revolusi perangkat dalam skala besar besar untuk perangkat apapun, konsumen manapun. Smartphone, tablet, PC, TV, dan wearable." Dan alasan inilah yang membuatnya mau bergabung dengan Samsung Electronics.

Samsung Electronics terus mempromosikan konektivitas antar perangkat untuk kemunculan era IoT. Konektivitas yang didefinisikan oleh Samsung Electronics tidak hanya memberikan pengalaman yang berbeda untuk setiap terminal namun juga kenyamanan bagi pengguna dengan memberikan pengalaman pengguna yang nyaman dan konsisten di berbagai terminal yang berbeda.

"Visi 'Samsung Connected World' adalah filosofi bahwa semua inovasi akan dibangun di atas keterbukaan dan kemitraan," kata Chomet. "Kami memiliki ekosistem perangkat keras dan perangkat lunak," katanya.

Sementara itu, konektivitas Samsung telah berpusat di sekitar perangkat digital seperti peralatan rumah tangga, sambil terus berusaha meningkatkan kualitas hidup manusia. Di sisi lain, konsumen berada di pusat ekosistem yang terbuka dan terhubung. "Konsumen ingin berkomunikasi melalui layanan jejaring sosial [sosial media], mendengarkan musik, menonton film drama lewat Netflix, serta mengkonsumsi konten dan bermain game," kata Chomet. "Ini adalah visi kami dimana konsumen harus di berada di pusat dari semua sistem yang terhubung," yang berarti bahwa "setiap produk layanan dan fungsionalitas yang yang berbasis awan dan IoT dalam pengembangannya harus harus bisa berjalan mulus pada perangkat apapun [termasuk produk pihak ketiga]," katanya.

Inti dari visi konvergensi Samsung adalah SmartThings dan Bixby. "SmartThings adalah suatu ekosistem yang terbuka," kata Chomet. Platform ini untuk menghubungkan perangkat seperti lampu, alarm dan kamera yang dibuat oleh perusahaan lain. Di sisi lain, "Bixby" adalah antarmuka pengguna yang memungkinkan pengguna mengoperasikan teks, telepon, dan aplikasi [di berbagai perangkat] lewat perintah suara," katanya.

"Di dunia smartphone, sistem operasi [OS] dan aplikasi itu penting, namun di era konektivitas, OS tidak akan memainkan peranan yang penting. SmartThings bisa dihubungkan dengan OS lain, dan sebuah smartwatch yang berbasis pada OS Tizen juga bisa dipasangkan dengan Galaxy Note8 yang berbasis Android," tambahnya.

Di sisi lain, Samsung Electronics akan meluncurkan Smart Speaker yang dilengkapi dengan Bixby tahun depan dan akan bersaing dengan Amazon Echo, Google Home, dan Apple HomePod. Pada konferensi pers setelah acara peluncuran Galaxy Note8 pada tanggal 23 Agustus (waktu setempat), presiden divisi Mobile Business di Samsung Electronics Koh Dong-jin mengatakan, "Kami pasti akan mengembangkan smart speaker meskipun tidak untuk tahun ini.”

Walaupun kalah start, namun Patrick Chomet yakin produk buatan perusahaannya akan mampu mengungguli pesaingnya. "Alexa [asisten virtual yang digunakan di Amazon Echo] memang cukup sukses, tapi saat ini produk smart speaker masih di level puluhan juta unit," kata Chomet. "Masih terlalu dini," katanya. "Tiga sampai lima tahun kemudian, akan ada miliaran perangkat. Samsung Electronics bisa menjual ratusan juta smartphone setiap tahunnya dan kita yakin bisa memberikan solusi total kepada konsumen. Seiring waktu, kita akan semakin kompetitif."

Amazon Echo yang merupakan perintis produk smart speaker diperkirakan telah berhasil menjual lebih dari 10 juta unit sejauh ini. Kesuksesan ini kemudian diikuti oleh peluncuran produk sejenis seperti Google Home tahun lalu, dan kemudian Apple HomePod, sehingga muncul persaingan pasar yang panas untuk produk yang masuk kategori elektronik konsumen ini.


Ketika ditanya apakah strategi keterbukaan yang dianut oleh Samsung juga membawa kepentingan pribadi diatasnya, Chomet tidak menampik munculnya kekhawatiran seperti itu. "Kami tentunya ingin banyak orang menggunakan smartphone Samsung, tapi Samsung Connect masih bisa digunakan pada perangkat lain seperti iOS," kata Chomet. "Kami sedang mencari peluang untuk bisa menemukan lebih banyak layanan yang memiliki nilai tambah [buat konsumen]."

"Jika Anda ingin menghubungkan semuanya, produk Samsung akan lebih baik tentunya, karena menawarkan pengalaman yang lebih mulus. Tapi lebih penting bagi konsumen untuk bisa menikmati konsumsi konten yang sederhana seperti komunikasi. Dengan begitu, kita bisa menarik lebih banyak konsumen dan membuatnya lebih menguntungkan. Namun, sebelum hal itu ada syarat penting yaitu pengalaman pengguna harus dikembangkan sebelumnya." pungkasnya.