Dekati 20 juta unit, smartphone Tizen akan dijual di 18 negara


Hari ini smartphone Tizen keempat - Samsung Z4 - sudah mulai dijual di India. Bertepatan dengan ini, Samsung Electronics mengumumkan bahwa Tizen Store diekspansi ke 7 negara baru sehingga total mencakup 18 negara di dunia.

Saat berlangsungnya Tizen Developer Conference (TDC) 2017 pada hari Selasa (16/5) kemarin di San Fransisco, Choi Ho-kyu, Director of Tizen Business, Product Strategy Team, Mobile Communications Division, Samsung Electronics, sebagai salah satu pembicara utama mengatakan akan memperluas pasar smartphone Tizen ke Timur Tengah dan Amerika Latin tahun ini.

"Awalnya kita meluncurkan smartphone Tizen di India, tapi lewat peluncuran Z2 telah diperluas ke Indonesia dan juga negara-negara di Afrika," kata Choi Ho-kyu.


Menurut Choi Ho-kyu, penjualan smartphone Tizen terus tumbuh bertahap setiap tahunnya. Berbicara tentang angka statistik, Choi Ho-kyu mengatakan bahwa volume penjualan smartphone Tizen naik 30% jika dibandingkan tahun sebelumnya saat smartphone Tizen pertama Samsung Z1 mulai dijual di India dan beberapa negara di Asia Barat Daya seperti Bangladesh, Nepal dan Sri Lanka. Peningkatan ini karena perluasan pasar penjualan smartphone Tizen ke Indonesia sebagai perwakilan untuk Asia Tenggara dan ke beberapa negara di Afrika seperti Afrika Selatan, Kenya, Nigeria dan Ghana.

Sementara untuk tahun 2017, Choi Ho-kyu menargetkan volume penjualan smartphone Tizen naik 100%.


Berdasarkan data dari perusahaan riset pasar Strategy Analytics, smartphone Tizen terjual sebanyak 2,9 juta unit di tahun 2015. Hampir sebagian besar hasil penjualan ini didominasi oleh Samsung Z1 yang sempat menjadi smartphone terlaris di India untuk segmen low-end selama kuartal pertama 2015. Smartphone Tizen kedua Samsung Z3 bisa dibilang tidak sesukses pendahulunya. Walaupun ada banyak peningkatan dari sisi hardware dan desain sehingga menempatkan perangkat ini pada segmen mid-end, namun ketiadaan dukungan untuk jaringan 4G dan harga awalnya yang tembus 2 juta rupiah membuatnya kurang diminati konsumen lokal.

Untuk Z2 akhirnya Samsung kembali pada formula sukses Z1 ditambah dukungan jaringan 4G. Begitu juga dengan Z4 yang mengikuti jejak Z2 dengan sedikit peningkatan pada kamera dan desain untuk membuatnya tetap pada rentang harga 1 jutaan.


"Secara umum, strategi dari Tizen yang kita inginkan adalah tetap pada entry level, namun kita akan terus menumbuhkannya. Tentu saja kita juga ingin meluncurkan perangkat high-end, tapi itu membutuhkan waktu. Tidak mudah untuk meluncurkan perangkat dari low-end ke high-end dalam waktu yang sama. Ekspansi pasarnya sangat berbeda. Jadi kita perlu memperluas pasar secara step-by-step, yang dimulai dengan perangkat low-end, lalu kita akan terus menumbuhkannya hingga sampai keatas," jelas Choi Ho-kyu.

Peningkatan sebesar 30% pada tahun 2016 berdasarkan klaim Samsung berarti volume penjualan smartphone Tizen mendekati angka 4 juta unit tahun lalu. Dan kenaikan 100% di tahun 2017 tentunya sesuai dengan target Samsung untuk bisa menjual 10 juta unit smartphone Tizen tahun ini. "Berbicara soal tren penjualan dari smartphone Tizen, kita menargetkan 10 juta unit perangkat hingga akhir 2017," kata Choi Ho-kyu.


Peningkatan ini diharapkan berasal dari perluasan area pemasaran smartphone Tizen ke Timur Tengah dan Amerika Latin tahun ini. Berdasarkan informasi dari Tizen Store Seller Office, akan ada 7 negara baru untuk pemasaran smartphone Tizen tahun ini sehingga total menjadi 18 negara, diantaranya adalah: India, Bangladesh, Sri Lanka, Nepal, Afrika Selatan, Indonesia, Kenya, Nigeria, Ghana, Peru, Bolivia, Sudan, Kongo, Zambia, Mauritius, Senegal, Mesir dan Pakistan.

Samsung menyadari bahwa konsumen mobile saat ini juga sangat peduli ekosistem aplikasi di dalamnya, tidak lagi hanya pada desain dan harga perangkat. Untuk mempermudah pengembang dalam membuat aplikasi Tizen, Samsung telah menjalin kerjasama dengan penyedia alat pengembangan lintas-platform seperti Unity dan Cocos2d. Selain itu, mulai Tizen 4.0 pengembang juga bisa memanfaatkan alat pengembangan aplikasi Visual Studio yang sudah populer milik Microsoft untuk membuat aplikasi native berbasis .NET framework dan C# untuk Tizen.


"Kita telah mengamankan banyak aplikasi kunci. Saya pikir untuk sebuah sistem operasi yang masih sangat baru, dalam waktu kurang dari dua tahun, bisa mendapatkan aplikasi-aplikasi yang penting adalah benar-benar sulit," kata Choi Ho-kyu.


Kemudahan pengembangan aplikasi Tizen dan hadirnya banyak insentif khusus dari Samsung, seperti tidak adanya pemotongan penghasilan pengembang yang menjual aplikasinya di Tizen Store hingga hadiah ratusan juta rupiah untuk 100 aplikasi terpopuler tiap bulannya lewat Tizen Incentive Program membuat Samsung yakin ekosistem aplikasi Tizen akan tumbuh 10 kali lipat di tahun 2017 dibandingkan tahun lalu.