Pasar produk Tizen di setiap negara berbeda


Samsung Electronics berperan besar dalam pengembangan sistem operasi (OS) Tizen dengan tujuan untuk menggunakannya sebagai sarana mencari bisnis baru. Samsung senantiasa mencari peluang dan kesempatan di setiap negara untuk membentuk pasar yang potensial buat ekosistem Tizen. Dikarenakan kondisi setiap negara berbeda, maka berpengaruh besar pada kehadiran produk Tizen disana.


India sebagai pusat pengembangan teknologi mobile

Ada dua alasan utama India dipilih menjadi tempat pertama yang disinggahi smartphone Tizen. Yang pertama adalah penetrasi smartphone yang masih sangat rendah di negara ini dengan jumlah penduduk terbesar kedua setelah China. Ada peluang untuk produk yang bisa menjembatani antara feature phone dan smartphone, yang bisa menghadirkan fitur dan ekosistem smartphone dengan kemudahan penggunaan dan kehandalan dari feature phone.

Yang kedua adalah adanya Samsung R&D Institute India di Bengaluru (SRI-B), pusat riset terbesar Samsung yang ada di luar Korea, yang secara kebetulan berfokus pada teknologi mobile dan smartphone. Banyak fitur software yang ada di smartphone Samsung, baik Samsung Galaxy yang menggunakan OS Android maupun Samsung Wave yang menggunakan OS bada, diciptakan di divisi mobile dari SRI-B ini. Sebagai "Silicon Valley of India," Bengaluru sudah diakui dunia sebagai eksportir IT terkemuka untuk produk software dan service.



Rusia melarang penggunaan software asing di kalangan perusahaan

Pada tanggal 16 November 2015, perdana mentri Rusia Dmitry Medvedev menandatangani Surat Keputusan Nomor 1236 yang melarang penggunaan software asing di kalangan pemerintahan dan badan usaha milik negara. Berdasarkan surat keputusan tersebut, pemerintah Rusia dan badan usaha milik negara diharuskan sudah menggunakan software buatan dalam negeri mulai 1 Januari 2016.

Sanksi ini sebenarnya sudah jauh diantisipasi oleh perusahaan software asal negara-negara barat. Namun sebenarnya Rusia sendiri juga memiliki kekuatan software, service dan industri internet sendiri yang luas di dalam negeri. Menurut angka yang dikeluarkan oleh IDC pada awal 2013, industri IT di Rusia menghasilkan sekitar $7 miliar dari service dan $5 miliar dari hasil penjualan software, dimana lebih dari $4 miliar diantaranya adalah hasil ekspor software keluar negeri.

Jadi jelas disini bahwa Rusia memiliki konsumsi domestik sendiri untuk software dan service dengan merek mereka sendiri yang unik bahwa dalam banyak kasus mencerminkan kemampuan perusahaan dalam negeri yang dengan cepat dikenali di dunia.

Samsung Z3 dengan nomor model SM-Z300F telah diresmikan menjadi perangkat resmi untuk pasar korporat dan enterprise (B2B) di Rusia saat berlangsungnya Samsung Enterprise Mobility Forum 2015 di Congress Park Hotel Ukraina, Moskow, Rusia, pada pertengahan bulan Oktober 2015 kemarin. Smartphone Tizen pertama di Rusia ini telah mendapat sertifikasi keamanan dari FSTEC (Federal Service for Technical and Export Control) yang akan menjamin perlindungan dari kebocoran data dan penyadapan, dimana Samsung akan mempromosikan produk berdasarkan Tizen akan bisa melindungi informasi rahasia.

Menurut Marat Guriev, Direktur Government Relationship di Samsung Electronics CIS, perusahaannya telah menyiapkan 10 ribu unit Samsung Z3 untuk klien perusahaan dan pemerintah di Rusia yang akan mulai dijual pada bulan Desember 2015. Dia berharap akan bisa menjual 300 ribu unit Samsung Z3 lagi di tahun 2016. Semuanya masih untuk pasar enterprise, dan Samsung Rusia masih belum punya rencana menjualnya ke konsumen umum dalam waktu dekat.


Samsung belum punya rencana menjual smartphone Tizen di Indonesia

Bagaimana dengan Indonesia? Sepertinya Samsung Electronics Indonesia (SEIN) belum punya rencana menjual smartphone berbasis Tizen di Indonesia.

"Untuk saat ini belum ada rencana, tetapi kami tidak bisa bilang tidak ada karena kami tetap akan melihat setiap kesempatan untuk membawa smartphone dengan OS Tizen ke Indonesia," kata Andre Rompis, wakil presiden divisi IT & Mobile Communications (IM) di Samsung Electronics Indonesia.

Untuk saat ini, smartphone Tizen memang masih belum punya peluang untuk sukses dan membedakan dirinya dengan smartphone yang menggunakan OS lain. Namun itu bukan berarti produk Tizen tidak hadir di pasar dalam negeri. Setelah smart camera Samsung seri NX, smart TV seri SUHD TV dan smartwatch seri Samsung Gear, Samsung berencana menjajaki pasar Indonesia dan negara-negara di Asia Tenggara lainnya untuk produk smart home dan Internet of Things (IoT) berbasis OS Tizen.



Samsung akan kembangkan pasar smart home dan IoT di Asia Tenggara

Pada bulan Desember kemarin, Samsung meluncurkan beberapa perangkat pendukung smart home dan IoT di beberapa negara di Asia Tenggara. Di Singapura, Samsung meluncurkan IoT showcase bertema “The Future, Today” yang menampilkan rangkaian teknologi terbaru yang memungkinkan terciptanya solusi smart home. Sementara di Indonesia Samsung memperkenalkan solusi Multiroom Link yang bisa dikontrol melalui aplikasi di smartphone.

Pada bulan Februari 2015 Samsung mengumumkan kemitraan dengan pengembang real estate Qingjian Realty (Qingjian) untuk mengintegrasikan teknologi smart home dengan perumahan yang diharapkan akan diluncurkan pada tahun ini juga.

Selain itu, Samsung juga bekerjasama dengan operator telekomunikasi Singtel dan NCS untuk mengintegrasikan solusi "Smart Living" di tahun 2016 melalui tiga area utama, masing-masing:
  • Home automation and safety: Memungkinkan konektivitas dan pengendalian yang mulus terhadap kunci, kamera dan semua peralatan di rumah.
  • Health and elderly monitoring: Mengukur kegiatan dan pelacakan data kesehatan pribadi dari lansia melalui perangkat kesehatan terhubung seperti tensi darah, glucometer, pulse oximeter, termometer dan timbangan.
  • Connected cars: Menyediakan analisis mengemudi, informasi perawatan dasar, diagnostik kendaraan dan menerima informasi real-time tentang kondisi lalu lintas.

"Kerjasama kami dengan Singtel dan NCS adalah sinergis, dinamis dan yang paling penting dibangun di atas visi bersama," kata Yong Sung Jeon, presiden dan CEO dari Samsung Electronics Asia Tenggara. "Bersama-sama kita akan menumbuhkan sebuah ekosistem IoT yang terbuka di Singapura,"

Sedangkan di Malaysia, Samsung IoT Academy telah dibuka Universiti Teknikal Malaysia Melaka (UTeM) pada bulan April tahun lalu, yang akan mendorong kemampuan belajar digital dan inovasi di era IoT. "Kami memilih UTeM sebagai lokasi perdana karena merupakan universitas teknik terkemuka di Malaysia, yang mendorong inovasi dan kemajuan teknologi yang berkelanjutan, sudah sepantasnya UTeM menjadi pelopor untuk konsep 'Internet of Things' dan juga menjadi tuan rumah pertama Samsung IoT Academy," kata Roh Jae-yeol, direktur hubungan perusahaan di Samsung Electronics Malaysia.