Friday, December 4, 2015

Analis: Samsung butuh Tizen untuk bersaing dengan Apple


Diskon besar pada smartphone Android yang baru dirilis terdengar seperti berita besar, tapi itu adalah pertanda yang mengkhawatirkan bagi produsen ponsel. Sebuah Samsung Galaxy S6 diberikan secara gratis untuk pembelian Tizen TV 4K segera setelah dirilis bisa berarti bahwa perusahaan berjuang untuk menjual perangkat dengan harga aslinya (tanpa keuntungan). Dengan diferensiasi software yang tidak leluasa, adanya perbandingan antara minat belanja dan keinginan untuk membawa konsumen baru ke dalam ekosistem mereka, membuat produsen perangkat Android merasa kesulitan untuk menyamai harga yang selevel iPhone untuk persembahan lini high-end mereka.

Di ekosistem Android, diskon buat perangkat yang baru dirilis adalah tren yang secara perlahan-lahan mulai dibangun dengan sendirinya. HTC One M9 tersedia pada bulan Agustus dengan diskon 25% dari harga resmi $649, sementara pada bulan Juli sebelumnya T-Mobile memberi diskon $120 untuk harga resmi $599 buat LG G4. Kedua smartphone ini baru diluncurkan pada bulan April. Ini bukan hanya terjadi pada produk HTC dan LG: penelitian dari Idealo menunjukkan bahwa diskon yang diterapkan untuk Samsung Galaxy semakin besar dan besar. Setiap perangkat flagship (unggulan) Galaxy kini menerima diskon besar pasca-peluncuran dibandingkan pendahulunya.

Penelitian Idealo menunjukkan bahwa setelah 22 minggu dari saat perilisan awalnya, Galaxy S6 32GB jatuh harganya hingga lebih dari 24%. Dalam jangka waktu yang sama, iPhone 6 16GB hanya jatuh kurang dari 3% dari harga awalnya.

Pemotongan harga ini bukan pertanda baik untuk profitabilitas industri. Apple mengambil 94 persen dari laba usaha industri smartphone, sementara Samsung mengambil 11 persen. Penambahan dua angka ini akan menghasilkan angka yang lebih dari 100 persen karena kerugian yang ditanggung oleh perusahaan lain (selain Apple dan Samsung). Apple iPhone 6s Plus dimulai pada harga $749, titik harga tertinggi dimana konsumen masih bersedia membayarnya untuk produk smartphone.

Apple, perusahaan yang menggabungkan keinginan yang tinggi dengan pengalaman yang terintegrasi, tidak bermain dengan aturan yang sama seperti pesaing mereka yang menggunakan Android. "Anda harus melihat Apple sebagai lebih dari sebuah agama," kata Ken Dulaney, seorang analis di Gartner. "Orang-orang akan membayar berapa pun harganya ahar mereka bisa menjadi bagian dari agama itu. Ketika itu hanya sebuah produk dimana orang bisa membelinya untuk harga yang lebih rendah."


Pertarungan ke bawah?

Ryan Reith, seorang analis di IDC, menjelaskan bahwa perusahaan seperti Samsung harus bersaing dengan produsen Android offshore* lainnya, yang terus mendorong harga untuk turun. "Dalam 3 tahun terakhir, kami telah melihat masuknya arus besar manufaktur yang terutama berasal dari China, dengan biaya yang sangat rendah," katanya. Ketika konsumen membandingkan dua perangkat yang terlihat dan terasa sangat mirip, akan sulit untuk meyakinkan mereka bahwa perangkat high-end layak menyandang harga premium. Di tengah penjualan yang mengecewakan untuk Galaxy S6, Samsung minggu ini mengumumkan bahwa JK Shin akan mengundurkan diri dari perannya sebagai pimpinan untuk bisnis mobile dan digantikan dengan DJ Koh yang lebih tahu soal software.

Tapi mungkin tidak semuanya adalah berita buruk. Daniel Gleeson, seorang analis di IHS, mengatakan bahwa Samsung bisa memainkan permainan jangka panjang dengan harga yang lebih rendah. Produk hardware masa depan seperti headset Gear VR memiliki potensi untuk membangun sebuah ekosistem baru, dan menurunkan harga produk yang sekarang berarti Samsung bisa mendapatkan lebih banyak konsumen di sisi mereka.

Itu tidak berarti Samsung akan hanya akan mengandalkan perangkat untuk menarik konsumen di masa depan. Di sisi smartphone, reputasi Samsung sebagai inovator teknologi bisa menjadi faktor yang menguntungkan dalam perangkat masa depan. "HTC yang sangat sukses untuk satu atau dua tahun, tetapi kemudian memudar karena mereka tidak bisa mengulangi diferensiasi itu," kata Gleeson.

Ini bukan hanya hardware dimana produsen bisa membedakan diri mereka. Julie Ask, analis utama di Forrester, melihat OS Tizen yang dikembangkan oleh Samsung adalah pertanda bahwa mereka telah mengerti pentingnya software. Tapi itu bukan hanya tentang dimana aplikasinya, atau user interface terlihat seperti apa. "Jangka panjang itu adalah asisten virtual, mobile wallet, dll yang akan mendatangkan konsumen," katanya. Jika Samsung ingin bersaing harga dengan iPhone 6S, mereka mungkin perlu diferensiasi itu.

* Alih keluar adalah merelokasi proses bisnis dari satu negara ke negara yang lain untuk mencari sumber daya, komponen atau faktor lain yang termurah, biasanya ke negara-negara yang belum maju atau terbelakang.



No comments:

Post a Comment