Tuesday, November 3, 2015

Samsung Galaxy akan menghilang 5 tahun lagi?

Samsung Z3 (SM-Z300F) yang disiapkan untuk pasar Eropa (Foto oleh Kirill Chuvilin)

Melalui artikel opini berjudul "Android and the Innovator’s Dilemma," Ben Bajarin, analis utama di Creative Strategies yang berbasis di Silicon Valley memprediksi bahwa Samsung akan keluar dari bisnis smartphone dalam waktu lima tahun. Benarkah prediksinya? Sekarang mari kita cari tahu jawabannya melalui beberapa fakta yang ada di lapangan.

Ben Bajarin mengaitkan prediksinya ini dengan sebuah buku berjudul "The Innovator's Dilemma" yang dikemukakan oleh Clayton Christensen, profesor Universitas Harvard yang merangkap sebagai pengusaha. Menurut buku yang diterbitkan tahun 1997 ini, perusahaan besar yang terlalu fokus pada keberhasilan mereka saat ini akan mengalami kegagalan dimasa depan jika gagal untuk mengadopsi teknologi atau model bisnis yang baru. Christensen menyebutkan bahwa perusahaan seperti ini membutuhkan "disruptive innovation," jika tidak ingin terus tertinggal di belakang.

Disruptive innovation adalah inovasi yang membantu menciptakan pasar baru, mengganggu atau merusak pasar yang sudah ada, dan pada akhirnya menggantikan teknologi terdahulu tersebut. Inovasi disruptif mengembangkan suatu produk atau layanan dengan cara yang tak diduga oleh pasar, umumnya dengan menciptakan jenis konsumen berbeda pada pasar yang baru dan menurunkan harga pada pasar yang lama.

Menurut Ben Bajarin, persaingan bisnis di pasar Android tidak sehat dan Samsung merupakan salah satu vendor Android yang saat ini menderita "The Innovator's Dilemma." Alasannya sebanyak dan sebaik apapun inovasi yang dihadirkan Samsung ke pasaran, yang tetap paling laku adalah perangkat Android dengan harga yang lebih murah.

Oleh karena itu, menurut Ben Bajarin, Samsung memiliki harapan besar pada Tizen sebagai penyelamat mereka.


Samsung sudah berencana meninggalkan Android jauh-jauh hari

Saat berlangsungnya pameran teknologi CES 2015 pada awal Januari kemarin di Las Vegas, Samsung Electronics secara eksplisit memang pernah mengungkapkan kalau mereka akan mengalihkan bisnis smartphone menjadi bagian dari Internet of Things (IoT) yang lebih luas dalam 5 tahun ke depan. Samsung mengatakan akan membanjiri pasar dengan perangkat Tizen mulai tahun ini.

Banyak orang menganggap bahwa smartphone Samsung adalah Galaxy, dan Galaxy sendiri adalah merek yang dibangun oleh Samsung Electronics buat perangkat yang menggunakan sistem operasi Android, tidak hanya smartphone karena ada juga kamera Galaxy NX atau smartwatch Galaxy Gear.

Samsung Electronics membangun bisnis IoT melalui dua platform software utama dan beberapa produk untuk konsumen. Dua platform software itu adalah proyek sistem operasi mobile Tizen dengan Tizen Association sebagai organisasi pendukungnya, dan yang kedua adalah proyek standarisasi konektivitas IoTivity dengan Open Interconnect Consortium (OIC) sebagai organisasi pendukungnya. Baik Tizen Association maupun OIC ada dibawah naungan Linux Foundation dengan Samsung Electronics sebagai pengendali utamanya.

Beberapa produk IoT Samsung yang sudah beredar saat ini diantaranya adalah SmartThings untuk Smart Home, Samsung Gear untuk wearable, SUHD untuk Smart TV dan banyak lagi. Sama sekali tidak ada nama Galaxy disini yang berarti tidak ada yang menggunakan OS Android.

Samsung Gear S2 dengan bezel putarnya bisa dikategorikan produk Tizen dari Samsung dengan teknologi yang disruptive

Samsung berhenti menjual smartphone murah di Eropa mulai tahun depan?

Menurut pejabat salah satu perusahaan telekomunikasi dari Belanda yang dikutip oleh SamMobile, Samsung Electronics akan berhenti menjual smartphone dengan harga dibawah 250 euro atau sekitar 4 juta rupiah di beberapa negara Eropa. Hal ini diamini oleh beberapa sumber dari Finlandia.

Namun disaat yang sama, Samsung Electronics juga sedang mempersiapkan peluncuran smartphone Tizen untuk negara-negara di Eropa.

Samsung Z3 dengan nomor model SM-Z300F yang memiliki konektivitas 4G LTE akan mulai dijual untuk pelanggan enterprise di Rusia pada bulan Desember mendatang dengan harga 10 ribu rubel atau sekitar 2 juta rupiah. Model yang sama diharapkan juga akan dirilis di negara-negara Eropa lainnya, Timur Tengah dan Asia Tenggara mulai tahun depan.


No comments:

Post a Comment