Tuesday, September 15, 2015

Perjuangan Samsung menjadi raja semikonduktor dunia


Dalam memulai setiap bisnisnya, Samsung Electronics selalu bermimpi bahwa suatu saat mereka akan menjadi yang terbesar. Untuk itu, mereka selalu menjadikan pemimpin pasar sebagai pesaing utama mereka, bahkan saat mereka baru memulainya.

Saat ini, Samsung Electronics belum menjadi pemimpin dalam pasar semikonduktor global. Pada tahun 1998, pangsa pasar mereka hanya sekitar 3,4 persen, sementara saingan utamanya Intel menyumbang 16,9 persen, yang berarti ada kesenjangan prosentase sebesar 13,5 poin.

Tujuh belas tahun kemudian, kesenjangan ini telah menurun menjadi hanya sekitar 2,1 persen. Hingga kuartal pertama tahun ini, pangsa pasar Intel telah jatuh ke 13,3 persen, sementara Samsung terus meningkat menjadi 11,2 persen. Beberapa orang dalam industri bahkan berspekulasi bahwa di masa depan, Samsung bisa melebihi Intel di pasar chip semikonduktor.

"Kami mulai dengan investasi besar sejak tahun 1983, tapi kembali ke saat itu, Intel adalah raksasa yang sepertinya tidak mungkin untuk dikalahkan," kata seorang pejabat tinggi di Samsung Electronics. "Apa yang telah kita capai saat ini seperti sebuah keajaiban."

Pada pabrik chip memori milik Samsung Electronics di Hwaseong, provinsi Gyeonggi, peralatan dan mesin manfaktur terlihat tersusun rapi di hanggar berukuran seluas empat lapangan sepak bola. Robot yang melekat pada rel di langit-langit pabrik sibuk memindahkan kotak plastik wafer memori. Selain beberapa pekerja yang sesekali terlihat memeriksa mesin, tidak ada lagi orang lain yang berkeliaran disini.

Tiga puluh tahun yang lalu, sebagian besar pekerjaan yang dilakukan oleh mesin ini semuanya dilakukan oleh karyawan yang sebenarnya. Tapi standar kebersihan perusahaan yang sangat tinggi menjadi kesulitan bagi siapa pun selain robot untuk melakukan proses perakitan tersebut. Misalnya, karyawan wanita yang bekerja dalam proses perakitan tidak diperbolehkan untuk memakai make-up, bahkan saat di jam mereka tidak sedang bekerja, untuk memastikan bahwa tidak ada bubuk make-up atau bedak yang ikut masuk ke tempat perakitan di pabrik.

"Setelah bekerja di Samsung, saya tidak pernah memakai make-up selama tujuh tahun," kata Suh Ae-jung, seorang karyawan berusia 53 tahun yang telah bekerja disini sejak tahun 1981. Satu-satunya hari dimana ia diberi izin khusus untuk memakai riasan adalah saat proses pernikahannya, pada tahun 1988.


Berani melawan arus

Samsung terjun ke bisnis semikonduktor dengan mengindahkan semua saran ahli, dimana saat itu banyak analis yang mengatakan bisnis ini sudah terlalu kompetitif.

Kisahnya dimulai ketika chairman Samsung Group Lee Kun-hee, yang saat itu juga menjadi seorang pimppinan eksekutif di Tongyang Broadcasting Company (stasiun TV Korea milik Samsung Group), mengakuisisi 50 persen dari pabrik Korean Semiconductor di Bucheon, provinsi Gyeonggi, pada tahun 1974 dengan menggunakan uang dari kantongnya sendiri.

"Setelah mengalami guncangan minyak selama musim dingin itu, chairman Lee memutuskan bahwa sangat penting buat [Samsung] untuk memulai bisnis yang memiliki nilai tambah. Jika tidak, perusahaan tidak akan punya masa depan, jadi beliau memutuskan untuk membeli perusahaan itu," kata seorang pejabat Samsung.

Pada tahun 1983, pendiri Samsung Group almarhum Lee Byung-Chull mengungkapkan rencananya untuk melakukan investasi besar dalam bidang semikonduktor. Para ahli kala itu menyarankan agar Samsung tidak terjun di bisnis semikonduktor, termasuk Mitsubishi Research Institute dari Jepang yang secara khusus mengeluarkan laporan yang membeberkan lima alasan mengapa Samsung akan gagal dalam bisnis ini.

Ketika Samsung mengumumkan rencana untuk mengembangkan chip memori DRAM 64-kilobyte yang canggih, salah satu jenis semikonduktor, bahkan karyawan Samsung sendiri banyak yang menentangnya. "Chairman Lee kemudian mengirim semua karyawan yang menentang ini ke dalam tim pengembangan DRAM," kata Moon Sang-young, kepala M Precision yang waktu itu masih menjadi pejabat junior di Samsung Semiconduktor. "Itu adalah cara beliau untuk mengatakan: gunakan keberanianmu untuk berbeda pendapat untuk menghadapi tantangan baru."

Samsung Semiconductor, yang waktu itu hanya memiliki kapasitas teknologi untuk memproduksi chip memori low-end yang digunakan dalam jam digital, pada kenyataannya kemudian berhasil membuat, merakit dan menguji chip DRAM 64-kilobyte dalam waktu hanya enam bulan dari pengumuman awal.


Inovasi adalah kuncinya

Setiap kali menghadapi tantangan, Samsung selalu membuat keputusan berdasarkan penilaian yang tajam dari kondisi pasar, yang memungkinkan untuk membuat pilihan investasi yang berani. Salah satunya adalah keputusan untuk memproduksi wafer 200 milimeter (8-inci), yang mengantarkan Samsung Electronics menjadi pemain top di industri chip memori di tahun 1992 - posisi yang kemudian terus bisa dipertahankan selama 23 tahun berikutnya.

Ketika permintaan untuk chip memori jatuh di akhir tahun 90-an dan terjadi lagi pada tahun 2008, Samsung memilih untuk berinvestasi dalam fasilitas serta penelitian dan pengembangan (R&D) baru, yang kemudian membantu meningkatkan daya saing mereka. "Keputusan dan inisiatif yang berani dari manajemen puncak telah memungkinkan terciptanya kinerja chip memori yang legendaris," kata Jeon Han-seok, CEO dari Institute of Global Management, sebuah perusahaan think-tank Korea.

Faktor lain di balik keberhasilan menempati posisi No.1 adalah pengembangan yang konsisten dari teknologi baru. Pada bulan Maret yang lalu, Samsung Electronics menjadi perusahaan pertama di dunia yang bisa memproduksi massal chip DRAM 8-gigabyte, yang memiliki 125.000 kali kapasitas memori chip 64-kilobyte yang menjadi penanda masuknya Samsung di bisnis ini. Chip baru ini dimungkinkan lewat inovasi seperti pemrosesan 20-nanometer.

Samsung chip flash vertical NAND (V-NAND) generasi ketiga adalah contoh lain dari teknologi baru yang berasal dari pemikiran "out of the box." Sel-sel dari chip ditumpuk secara vertikal, bukannya horizontal, untuk secara dramatis meningkatkan jumlah data yang dapat disimpan. "Jika teknologi yang ada seperti membangun sekelompok rumah padat di sebidang tanah yang sempit, V-NAND adalah seperti membangun apartemen yang tinggi," kata Lee Un-kyeong, seorang eksekutif di divisi pengembangan memori flash Samsung.

Samsung juga mengincar industri semikonduktor sistem (untuk masa depan. Dalam rangka untuk menjadi pemain terbesar di pasar semikonduktor secara keseluruhan, semikonduktor sistem, yang menyumbang 77 persen dari industri, juga harus diamankan.

Intel adalah pemain No.1 di pasar semikonduktor sistem selama bertahun-tahun, sementara Samsung masih berada di peringkat kelima dengan pangsa pasar hanya 3,1 persen. Namun, Samsung Electronics berhasil meningkatkan pangsa pasarnya di industri prosesor aplikasi (AP), komponen kunci dalam smartphone, yang menguasai 9,6 persen pada kuartal pertama tahun ini.


Kapasitas produksi Samsung akan meningkat tajam setelah pabrik baru mereka di Pyeongtaek, provinsi Gyeonggi, resmi beroperasi pada tahun 2017. Perusahaan telah menginvestasikan 15,6 triliun won atau sekitar 192 triliun rupiah untuk komplek baru ini, yang akan menjadi pabrik chip memory terbesar di dunia.


Apa tantangan berikutnya?

Samsung Electronics saat ini juga merupakan pemimpin di pasar smartphone dan pasar televisi, tapi masa depan tidak akan selalu cerah. Tantangan terbesar di muka datang dari China. Pasar smartphone China saat ini adalah yang terbesar di dunia. Pemerintah China juga telah mengeluarkan rencana untuk menginvestasikan 1 triliun yuan (sekitar 2.265 triliun rupiah) selama 10 tahun ke depan untuk meningkatkan produksi semikonduktor buatan China.

"Investasi yang lebih agresif dalam semikonduktor sistem sangat penting untuk memimpin dalam bisnis semikonduktor," kata Joo Dae-young, seorang peneliti di KKorea Institute for Industrial Economics & Trade.

"Sebuah masa depan yang berkelanjutan ada ada pada teknologi semikonduktor IT, fintech dan IoT," kata Cha Sang-Gyun, seorang profesor teknik listrik di Universitas Nasional Seoul.



No comments:

Post a Comment