Thursday, July 23, 2015

Samsung bekerja pada smartphone generasi berikutnya di India


Samsung Electronics telah mempercayakan kepada tim penelitian dan pengembangan (R&D) mereka di India untuk mengembangkan teknologi masa depan agar tetap berada paling depan dalam persaingan dan memantapkan posisinya sebagai produsen smartphone terbesar dunia. India yang telah menjadi basis penelitian utama terkait teknologi mobile untuk Samsung selama dua dekade terakhir, adalah rumah bagi tiga fasilitas R&D dan mempekerjakan 10.000 insinyur berbakat, terbesar secara global dari semua pusat R&D milik Samsung.

Pusat R&D yang ada di Bengaluru menempati dua bangunan besar di mana penelitian terus dilakukan terkait dengan perangkat pintar, semikonduktor, printer, modem, protokol internet dan jaringan. Pengunjung harus melewati beberapa lapis keamanan untuk memasuki tempat ini. Terkecuali untuk lantai tiga di mana tim manajemen puncak berada, semua lantai lainnya memiliki tema yang berbeda. Misalnya, lantai empat di mana tim penelitian lanjutan ditempatkan dan bekerja pada teknologi baru dan produk yang belum tersedia di pasar, memiliki tema hutan dan alam untuk menginspirasi timbulnya kreativitas.

Dalam upaya untuk membuat fusi dari dua budaya, Korea dan India, lorong-lorong dihiasi di satu sisi dengan poster yang menunjukkan budaya Korea seperti Kpop dan dan di sisi lain dengan ikon India seperti Taj Mahal. Selain itu, masing-masing tim juga dihuni oleh orang Korea di dalamnya untuk membantu bekerja secara lancar dengan rekan-rekan mereka yang ada di Korea.

Sistem operasi (OS) Tizen adalah salah satu proyek utama secara global yang dikerjakan oleh Samsung di Bengaluru. "Porsi terbesar dari sistem operasi Tizen telah dikerjakan oleh tim peneliti di India," kata Dipesh Shah, kepala pusat R&D Samsung di India dan juga wakil direktur pada unit Samsung India. Terlepas dari upaya untuk meluncurkan lebih banyak smartphone berbasis OS Tizen, tim ini juga bekerja pada sistem operasi untuk perangkat pintar lainnya seperti wearable dan Smart TV.

Selain bekerja untuk Tizen, tim R&D di India juga memberikan kontribusi untuk produk Samsung lainnya yang dirilis secara global. Sekitar 1.000 insinyur di India telah bekerja pada pengembangan prosesor aplikasi untuk Galaxy S6, dimana mereka membuat platform, driver dan aplikasi yang berbicara satu sama lainnya, dan prosesor komunikasi yang menghubungkan ponsel ke jaringan. Selain itu mereka juga mengembangkan enam dari delapan fitur yang ada di Galaxy S6.

Para peneliti di fasilitas yang ada di Bengaluru juga bekerja bersama-sama dengan rekan-rekan mereka yang ada di Korea pada teknologi generasi berikutnya, termasuk virtual reality, pengolahan bahasa alami (NLP), perangkat wearable, kecerdasan buatan (AI), komunikasi mesin-ke-mesin (m2m) dan Internet of Things (IoT).

Salah satu proyek yang dikerjakan oleh tim R&D Samsung di India saat ini adalah pada sebuah mesin yang dapat mengerti apa yang diinginkan oleh pengguna, dengan menggunakan pemrosesan bahasa alami dan kecerdasan buatan.

"Sekarang orang ingin menggunakan struktur menu tertentu hanya dengan berbicara pada ponsel," kata Dipesh Shah, yang telah bekerja dengan unit R&D Samsung di India sejak didirikan pada tahun 1996. "Penangkapan keinginan (pengguna) adalah kecerdasan buatan bagi kami," ia menambahkan.

"Kecerdasan buatan memiliki berbagai teknologi. Bagi kita, itu sangat mudah untuk memahami apa yang kita bicarakan tapi buat komputer untuk memahami, itu sangat sulit. Bukan karena aksen atau apa, tapi maksudnya," katanya. "Kata memiliki arti, tapi untuk banyak hal, maksud dari perkataan kadang berbeda dari sekedar kata-kata. (Kami bekerja) dalam pemrosesan bahasa alami untuk memahami maksud manusia ketika ia mencoba untuk menjalankan sebuah layanan."

Dua bidang besar yang menjadi fokus untuk tim R&D ada pada musik dan kamera. Konsumen adalah pengguna terbesar dari kedua unsur ini dan para peneliti mencoba untuk memahami pola penggunaannya untuk menyesuaikan ponsel bagi konsumen. "Misalnya, kita memahami bahwa setiap kali konsumen menggunakan player musik - ketika dia jogging, dia mendengarkan musik ini; ketika dia di dalam mobil dia mendengarkan musik ini," jelasnya. "Hal-hal ini dipelajari dengan izin konsumen, jika dia ingin kita menggunakan informasi itu dan memberikan layanan yang mengagumkan, kita bersedia untuk memberikan. Itulah lingkup kecerdasan buatan."

Samsung mengharapkan putaran berikutnya dari inovasi akan dipimpin oleh wearable dan IoT dan mereka telah memiliki tim yang berdedikasi untuk bekerja pada area-area ini. "Untuk kasus wearable, jika mencoba untuk melakukan segala sesuatu, maka itu luar biasa buat orang-orang. Jadi, kita perlu memilih masalah apa yang harus dipecahkan oleh wearable untuk konsumen buat kegiatan mereka sehari-hari," kata Dipesh Shah. "Dalam kasus seseorang jogging, ia dapat meninggalkan ponsel di rumah dan memakai Gear S yang dapat menerima panggilan setelah diteruskan dari ponsel."

Tim Bengaluru telah melihat bagaimana perangkat Galaxy S6, Galaxy S5, Note 4 dan Note 3 dapat terhubung ke Gear S dengan cepat dan jenis notifikasi yang dipertukarkan antara keduanya. Idenya adalah untuk "menciptakan gaya hidup digital yang baru untuk konsumen," kata Dipesh Shah. Selain itu, tim R&D India juga memiliki andil dalam terciptanya perangkat virtual reality pertama Samsung Gear VR.

Menurut Jayant Kolla, co-founder dari perusahaan riset Convergence Catalysts yang berbasis di Bengaluru, Samsung memiliki semua potongan teka-teki dan jika dijalankan dengan benar, dapat memperoleh keunggulan kompetitif yang pasti. "Di masa lalu, perusahaan seperti Motorola dan Nokia bergantung pada tim India mereka buat berinovasi untuk produk global. Sebagian besar inovasi dalam perangkat, user interfece dan internet mobile yang terjadi di India. Samsung juga sama. Perkembangan teknologi yang terjadi di sini memberikan perusahaan keunggulan di lingkungan yang sangat kompetitif."

Pertempuran global untuk menjadi produsen smartphone terbesar telah bergabungmengundang pemain-pemain baru seperti Lenovo yang mengakuisisi Motorola tahun lalu, dan Xiaomi, yang dikenal sebagai Apple asal China. "R&D di India adalah penting dari perspektif jangka panjang untuk perusahaan seperti Samsung. Sebagian besar perusahaan besar memiliki kegiatan penelitian dan pengembangan berbasis di India," kata Rajat Agrawal, editor di BGR. "Dibandingkan dengan negara-negara seperti China dan Jepang, India menawarkan beberapa keuntungan. Sementara India adalah salah satu pasar terbesar bagi perusahaan, juga memiliki bakat-bakat besar untuk mereka gunakan juga. Dan sementara bekerja pada produk untuk pasar global, mereka juga dapat memenuhi kebutuhan lokal."



No comments:

Post a Comment