Samsung hapuskan bada framework di Tizen SDK 2.3


Salah satu perubahan utama dari Tizen SDK 2.3 Beta yang dirilis pada awal bulan ini adalah native framework yang baru. Baru dalam hal ini bukan berarti Tizen sebelumnya tidak mendukung pengembangan aplikasi native, tetapi telah terjadi pergantian native framework untuk pengembangan aplikasi native Tizen.

Tizen SDK sebelumnya menggunakan OSP framework untuk pengembangan aplikasi native. Dan seperti kita tahu OSP atau Open Service Platform adalah framework untuk pengembangan aplikasi native buat smartphone bada.

Menurut Hong Won-pyo, Presiden Samsung Electronics dan pimpinan dari Samsung Media Solution Center (MSC), struktur platform bada sebenarnya tidak sepenuhnya dibuat untuk smartphone yang mengindikasikan bada belum lengkap sebagai smartphone mandiri. Dikembangkan berdasarkan platform SHP (Samsung Handset Platform) yang digunakan oleh deretan feature phone Samsung, penambahan OSP membuat smartphhone bada bisa menjalankan aplikasi native selain Java MIDP.


Samsung awalnya menggunakan OSP untuk pengembangan aplikasi native di Tizen dengan tujuan untuk memberi kemudahan buat pengembang aplikasi bada untuk memporting aplikasi mereka sebelumnya ke Tizen. Bahkan untuk tujuan ini, Samsung juga menambahkan Migration tool sebagai add-on pada Tizen SDK versi untuk mengkonversi aplikasi bada secara otomatis menjadi aplikasi native Tizen. Selain itu juga masih ada TIZEN Port-a-thon, dimana menyediakan hadiah total senilai $2,2 juta atau sekitar 21 milyar rupiah plus hadiah menarik lainnya buat pengembang bada yang telah memporting aplikasi buatannya ke Tizen.

Kini setelah dirasa semua aplikasi dan pengembang bada telah beralih ke Tizen, Samsung merasa tidak ada gunanya lagi mempertahankan OSP framework di Tizen.


Dalam release note untuk Tizen SDK 2.3 Beta disebutkan bahwa Tizen native framework telah sepenuhnya direvisi untuk meningkatkan kinerja dan skalabilitas dari aplikasi native. Native framework baru yang berbasis Enlightenment Foundation Libraries (EFL) dianggap memiliki kelebihan dalam hal lebih mudah untuk diterapkan dalam berbagai profile yang didukung oleh Tizen, tidak hanya smartphone, serta juga secara teknologi lebih matang karena didukung lebih banyak library yang bersifat open source.

Sisi negatifnya, sekarang sudah tidak dimungkinkan lagi untuk membuat aplikasi native Tizen berbasis OSP atau bada. Bahkan semua fitur yang sebelumnya didukung oleh OSP framework seperti Wi-Fi Direct dan NFC juga akan digantikan dengan yang baru.