Bagaimana sistem operasi baru bisa sukses?


Sebuah sistem operasi (OS) merupakan bagian yang paling kompleks dari sebuah software, jadi penjabarannya tidak kurang dari software yang paling kompleks yang bisa dibuat. Dalam versi pertama dari sebuah OS, daftar fitur yang ingin ditambahkan akan selalu membutuhkan waktu yang lebih lama daripada apa yang bisa diterapkan, selalu ada bug yang tidak bisa ditemukan sendiri oleh pengembangnya, dan kinerja yang selalu menjadi masalah.

Yang lebih buruk, ada satu keadaan yang akan membuat pengembang suatu OS akan tegang dibuatnya jika dibandingkan tiga masalah sebelumnya, yakni lebih banyak fitur yang ditambahkan, ada kemungkinan akan lebih banyak bug yang akan muncul. Semakin banyak waktu yang dihabiskan untuk memperbaiki bug, semakin sedikit waktu yang dimiliki untuk meningkatkan kinerja OS ini. Dan seterusnya. Akibatnya, setiap sistem operasi baru, tanpa terkecuali, adalah himpunan memalukan dari kompromi-kompromi yang telah membuat frustrasi penciptanya sehingga akhirnya tidak bisa dirilis sesuai dengan janji mereka pada awalnya.

Anda masih ingat dengan sejarah berikut ini? Android pada awalnya tidak bisa merekam video, tidak ada video call, tidak mendukung flash di browser, tidak bisa transfer file via bluetooth dan tidak mendukung rotasi layar. Begitu juga dengan iPhone yang awalnya malah tidak memungkinkan untuk menginstal aplikasi dari pihak ketiga, tidak bisa memilih ringtone sendiri, tidak bisa merekam video, tidak ada multi-tasking, dan tidak memiliki dukungan 3G dan MMS.

Perangkat BlackBerry awalnya malah hanya bisa digunakan untuk push email, telpon, mengirim pesan teks, fax via internet, browsing dan layanan informasi nirkabel lainnya dalam layar yang monokrom. Praktis tidak ada fitur multimedia, kamera atau konektivitas yang layak.

Malah Windows Phone (melalui Windows Phone 7) yang merupakan reinkarnasi dari Windows Mobile awalnya malah tidak bisa multi-tasking, tidak bisa transfer file via bluetooth, tidak ada copy/paste, mengganti ringtone harus mengunduh via Marketplace, tidak ada mode USB mass storage untuk transfer file dengan PC, tidak mendukung flash di browser dan tidak ada video call. Padahal Windows Mobile yang lama bisa menggunakan semua fungsi itu karena memang Microsoft membangunnya kembali dari bawah.

Sistem operasi yang sukses adalah sistem operasi yang bisa bertahan cukup lama untuk secara terus menerus bisa memperbaiki kelemahan-kelemahannya. Hal itu bisa terjadi jika pendukung OS ini memiliki komitmen yang mendalam, menawarkan sesuatu yang menarik yang berbeda dengan yang lain sehingga konsumen bersedia untuk membelinya meskipun masih banyak kekurangan disana-sini. Kesempatan yang terbaik akan datang jika pendukung OS ini memiliki kesabaran, pendanaan yang cukup dan diferensiasi produk yang baik.

WebOS adalah contoh salah satu OS mobile yang bagus, namun Palm tidak cukup kaya untuk mendanainya dan HP yang kemudian membelinya tidak cukup sabar untuk terus berinvestasi setelah versi pertama yang menunjukkan banyak kelemahan, sehingga akhirnya dijualnya kembali ke LG Electronics. Dan yang lebih penting, tidak ada produk handset WebOS yang cukup menarik yang membuat orang mau membelinya, meskipun dari sisi software masih banyak kelemahannya.

iPhone sukses karena menurut sebagian orang adalah perangkat pertama yang menghadirkan pengalaman browsing internet layaknya PC pada smartphone. Ini merupakan "killer feature" buat orang-orang untuk membeli iPhone sekaligus memberikan kredibilitas pasar dan waktu buat Apple untuk mengaktifkan layanan aplikasi dari pihak ketiga, memperbaiki masalah yang ada pada smartphone mereka, dan menambahkan fitur tambahan untuk semakin memperkuat visi produk mereka.

Dan sudah menjadi tradisi bahwa setiap model iPhone yang keluar pasti disertai killer feature yang baru yang diklaim paling inovatif dibanding hanya mengunggulkan perbedaan spesifikasi hardware seperti pesaingnya, seperti misalnya Siri atau untuk tahun kemarin adalah user interface (UI) baru bernuansa flat dari iOS 7.

Android kemudian juga sukses (sebagian) karena Apple begitu bodoh meninggalkan celah di pasar yang akhirnya bisa diisi oleh Google. Salah satu kesalahan terbesar yang pernah dilakukan Steve Jobs adalah keputusannya untuk membawa iPhone secara eksklusif untuk operator AT&T di Amerika Serikat selama beberapa tahun. Hal ini memaksa Verizon, operator terbesar di Amerika sekaligus pesaing AT&T, untuk mencari pesaing iPhone dan terjun ke pasar secara agresif dengan pilihannya. Keputusan Verizon akhirnya jatuh ke Google dengan OS barunya setelah melihat Windows Mobile dan Symbian waktu itu sudah dianggap "kuno" oleh konsumen dan sedang berada dalam tren kemunduran.

Orang-orang di luar Amerika tidak menyadari hal ini, namun di Amerika Serikat Verizon adalah otak pemasaran utama di balik kesuksesan Android. Verizon secara habis-habisan mengkampanyekan produk Android ke pasar dan terus mendorongnya untuk waktu yang lama, sehingga memberikan Google waktu yang cukup untuk meningkatkan software Android nya dalam melewati masa-masa kritis selama rilis pertama yang penting.

Jadi seperti yang telah diutarakan sebelumnya suatu OS bisa sukses jika pemiliknya memiliki kesabaran, pendanaan yang cukup dan diferensiasi produk yang baik. Selain dibutuhkan sumber daya terbaik untuk mengarahkan OS menuju arah yang ingin dituju, pendanaan juga sangat penting karena tidak sedikit waktu yang dibutuhkan untuk membuat OS yang baik dan tidak murah untuk menggaji orang-orang yang terbaik di bidangnya.

Lalu bagaimana TIZEN bisa sukses? Akan kita bahas di artikel berikutnya.