Operator kritik Android makin tertutup di tangan Google, siap berpindah ke TIZEN


KT, operator telekomunikasi terbesar kedua di Korea, mengkritik Google yang kini telah membuat Android sebagai sistem operasi (OS) yang tertutup, memiliki karakteristik yang anti sosial sementara mereka bersikeras pada keterbukaan terhadap hal-hal baru. Untuk itu, KT mulai sekarang akan mengalihkan fokus mereka pada proyek TIZEN dari Linux Foundation yang didukung oleh kolaborasi Samsung dan Intel.

Android telah melalui upgrade yang aktif dari Google dan menerima dukungan besar baik produsen smartphone dan operator telekomunikasi, sehingga pertumbuhan bisa berlangsung dengan cepat. Semakin banyak pengguna Android yang masuk, pasar menjadi semakin besar dan mengakibatkan siklus yang besar untuk pertumbuhan Android.

Namun, kemudian muncul situasi yang tidak nyaman bagi produsen smartphone dan operator seluler. Google telah menekankan keterbukaan terhadap OS open source untuk Android namun teknologi dan kebijakan yang kini mereka terapkan sangat tertutup.


Seperti yang telah kita beritakan sebelumnya, Google telah menghentikan pengembangan dari semua aplikasi dari Android Open Source Project (AOSP) dan menggantinya dengan aplikasi Google yang tertutup. Setiap Google merilis sebuah aplikasi Android baru ke Play Store, itu pertanda bahwa kode source code sudah ditutup dan versi AOSP sudah dihentikan. Google kini mencoba untuk mengambil semua kendali dari sistem open source yang ada di versi sebelumnya dari Android.

Selanjutnya, Google telah menyebarkan aplikasi closed source mereka di versi Android terbaru seperti Gmail, Google Maps, Google Talk, YouTube, Google Hangouts, Play Store, Google Now dan semacamnya. Aplikasi closed source ini kebanyakan adalah yang sudah akrab bagi pengguna. Beberapa aplikasi lain yang telah pindah menjadi aplikasi proprietary Google adalah Google Search, aplikasi Music, Calendar, Gallery, keyboard dan aplikasi kamera dan beberapa lainnya. Google ingin memiliki kontrol yang lebih ketat pada produsen mobile dan operator seluler. Para vendor ini harus memiliki lisensi dari Google jika menginginkan aplikasi-aplikasi ini ada pada perangkat mereka.

Eung-Ho Lee, Senior Vice President of Telecom & Convergence Group di KT, saat menjadi salah satu pembicara di Tizen Developer Summit Korea (TDSK13) kemarin di Seoul menunjukkan bahwa Android saat ini hanya memiliki beberapa tempat saja, buat perusahaan seperti mereka dalam membuat keuntungan. Ketika Google telah memutuskan untuk pergi dengan ekosistem tertutup, lingkungan yang anti sosial, mereka telah menutup dan menghilangkan banyak variasi dan keragaman yang bisa dibuat seperti dulu.


KT melihat TIZEN sebagai platform baru yang dengan cepat telah mewarisi percepatan pertumbuhan seperti Android sebelumnya dan memiliki potensi untuk berkembang. Eung-Ho Lee juga berkomentar bahwa mereka sepenuhnya akan mendukung visi dari TIZEN ini. Untuk itu, KT telah bergabung dengan Tizen Association tahun lalu sebagai salah satu anggota dewan.

"Google Play telah merebut posisi dominan di pasar toko aplikasi, namun fokusnya telah terbatas pada aplikasi populer," kata Lee. "Hal ini karena Google, yang sebelumnya berhasil dengan kebijakan open-source, kini telah menghilangkan banyak keragaman dan keterbukaan."

"Jika kita maju dengan sistem operasi dengan pintu yang terbuka yang mampu menarik banyak pengembang.?.?. Saya pikir TIZEN akan menjadi ekosistem yang kuat dan alternatif terbaik untuk itu karena berfokus pada filosofi keterbukaan dan berbagi."