Kelebihan dan kekurangan aplikasi Hybrid (Web + Native)


Sistem Operasi TIZEN secara resmi mendukung aplikasi pihak ketiga yang berbasis Web (HTML5, CSS, JavaScript), Native (C/C++) dan Hybrid (Web & Native). Menurut Tizen.org, aplikasi Hybrid TIZEN adalah kontainer yang berisi aplikasi Web TIZEN & layanan aplikasi TIZEN C++ (Native) dengan akhiran ".wgt", sama seperti aplikasi Web TIZEN.

Sementara aplikasi Native saat ini masih mengungguli aplikasi Web mobile - dengan penguasaan sebesar 80% dari penggunaan di perangkat mobile, menurut Marko Lehtimaki, CEO dan pendiri dari AppGyver - namun proses pengembangan yang lebih mudah dan kecepatan loading dan kinerja dari aplikasi Hybrid dibandingkan aplikasi Native bisa mengubah segalanya menjadi lebih baik.

Berikut adalah kelebihan dan kekurangan dari aplikasi Hybrid:

1. Proses loading dan kinerja lebih cepat

Sebuah aplikasi Hybrid secara teknis adalah aplikasi Web HTML5 dalam "pembungkus (wrapper)" Native, atau sering dikenal sebagai aplikasi Native yang sederhana. Hal ini memungkinkan aplikasi Hybrid untuk bisa dijalankan dengan lebih cepat, dengan masih memiliki kemampuan untuk dijalankan secara offline.

"Keuntungan dari menjalankan dokumen HTML pada aplikasi pembungkus, daripada browser adalah bahwa sebagian besar aset yang dibutuhkan oleh halaman Web disimpan dalam paket aplikasi Native pada perangkat, bukan pada server. Ini berarti bahwa aplikasi akan terasa berjalan lebih cepat, dan dapat dijalankan sepenuhnya secara offline seperti aplikasi Native," kata Marko Lehtimaki.

2. Proses pengembangan lebih mudah

Pengembang yang membuat aplikasi HTML5 suka pada kemampuannya untuk bisa dimulai dengan cepat. Dengan mempertahankan manfaat aplikasi Native, aplikasi Hybrid dapat diluncurkan hampir secepat aplikasi Web.

"Menerbitkan sebuah aplikasi untuk berbagai platform dari kode tunggal berbasis HTML5 secara dramatis juga bisa mengurangi biaya pengembangan, dan menggunakan basis kode yang sama sebagai dasar untuk situs web mobile yang ramah dengan mesin pencarian bisa menghemat biaya lebih lanjut, dan mendapatkan rangkaian yang lengkap dari aplikasi mobile untuk tersedia ke pasar lebih cepat," kata Marko Lehtimaki.

3. Masih dianggap minim pengalaman pengguna

Meskipun banyak manfaatnya, aplikasi Hybrid masih dianggap berkompromi ketika terkait dengan pengalaman pengguna sehingga pengembang masih berharap banyak pada aplikasi Native.

"Aplikasi Hybrid biasanya dianggap sebagai kompromi dalam hal pengalaman pengguna. Dibutuhkan banyak kerja ekstra pada bagian dari pengembang HTML5 dalam mencoba untuk menghasilkan platform yang konsisten terhadap perilaku antarmuka pengguna, yang biasanya tidak jauh berbeda dari UI Native," kata Marko Lehtimaki.

Masalah penting lainnya yang diidentifikasi Marko Lehtimaki adalah kurangnya tool yang memadai. Namun tantangan pengembangan aplikasi Hybrid ini, termasuk proses debugging, saat ini sedang ditangani oleh orang-orang seperti Appurify, AngularJS dari Google, dan lainnya, termasuk didalamnya orang-orang dari Samsung dan Intel yang tergabung dalam tim pengembangan ekosistem TIZEN. Dengan semakin banyak organisasi, kelompok, dan individu yang berkontribusi untuk mengatasi kekurangan ini, keuntungan dari aplikasi Hybrid akan menjadi dominan, terutama untuk proyek-proyek skala rendah dan menengah.

Kesenjangan antara Hybrid dan Native harus menutup dengan cepat dalam beberapa bulan mendatang, mengakibatkan meningkatnya permintaan untuk aplikasi Hybrid generasi berikutnya karena lebih hemat biaya, kemampuan distribusi secara cross-platform, dan kolam besar berisi pengembang web yang berkualitas. Dengan meningkatnya kualitas aplikasi Hybrid setara Native, dominasi sebelumnya dari aplikasi Native secara alami akan mulai ditarik dari pasar. Dan perubahan paradigma ini akan menjadi kemenangan bagi teknologi web.