China mencari alternatif untuk Android?


Akademi Riset Telekomunikasi China (China Academy of Telecommunication Research of MITT), sebuah divisi yang terkait dengan Departemen Perindustrian dan Teknologi Informasi, mengatakan bahwa China terlalu bergantung pada Android dan menuduh Google menggunakan dominasinya untuk mendiskriminasi perusahaan China.

"Penelitian dan pengembangan sistem operasi mobile di negara kita terlalu tergantung pada Android," kata sebuah pernyataan yang diposting oleh kementerian teknologi industri dan informasi China secara online pada hari Jumat dan dimuat oleh media lokal pada hari Selasa. "Walaupun sistem Android adalah open source, namun inti teknologi inti dan teknologi roadmap secara ketat dikontrol oleh Google."

Surat kabar itu mengatakan Google telah mendiskriminasi beberapa perusahaan China yang ingin mengembangkan sistem operasi mereka dengan menunda pembagian kode. Google juga menggunakan perjanjian komersial untuk menahan pengembangan bisnis perangkat mobile dari perusahaan-perusahaan ini.

Dengan memegang posisi dominan sekitar 80% dari smartphone yang terjual di China, Google sama sekali tidak memberikan ruang lingkup untuk penyalahgunaan Android. Dan ironisnya, pasar dan pertumbuhan Android terbesar adalah di China walaupun sejak lama hubungan antara Google dan pemerintah China berjalan kurang harmonis.

Pada 12 November 2012 kemarin, China, Jepang dan Korea Selatan mengadakan seminar selama tiga hari di Okinawa, Jepang untuk meningkatkan kerjasama mereka dalam menciptakan dan berbagi informasi mengenai sistem operasi (OS) dan pengembangan software untuk memfasilitasi pengembangan komputasi awan (cloud computing), dan internet mobile.

"Negara-negara ini akan bekerja sama untuk meningkatkan pertukaran informasi dan pemasaran global bersama untuk perusahaan software mereka dengan pengembangan bersama dan berbagi teknologi terbaru melalui Asosiasi Asia Timur Laut untuk sektor software," bunyi siaran pers yang dikutip oleh kantor berita Yonhap.

Lebih luas lagi, di tengah perselisihan mengenai keputusan kongres Amerika Serikat yang menyebutkan bahwa Huawei dan ZTE mengancam keamanan nasional AS, kedua vendor terbesar dari China itu mulai sedikit demi sedikit meninggalkan sistem operasi buatan perusahaan Amerika. Hal ini dipicu sikap pemerintah AS yang melarang perusahaan di negaranya untuk bekerja sama dengan Huawei maupun ZTE.

Wakil Presiden Eksekutif ZTE He Shiyou dalam wawancara eksklusif dengan Sohu IT pada pertengahan September tahun lalu, juga mengatakan bahwa operator di Amerika Serikat, Eropa, serta operator domestik (China) secara umum tidak akan mau tunduk pada satu sistem operasi tunggal.

Sementara Huawei yang akan meluncurkan smartphone TIZEN setelah menjadi anggota Tizen Association juga berencana membuat sistem operasi sendiri. "Apapun yang disukai oleh konsumen, kita akan mengembangkannya," kata Wan Biao, CEO dari Huawei Device, dalam sebuah wawancara di kantor pusat perusahaannya. "Kami juga telah mencurahkan sumber daya ke dalam sistem operasi mobile yang akan datang berbasis platform kami saat ini dengan alasan jika perusahaan lain tidak akan membiarkan kita menggunakan sistem mereka satu hari nanti."

Perusahaan-perusahaan Asia kini telah menguasai hampir 90% dari pembuatan hardware untuk perangkat IT dan mobile, namun mereka masih jauh tertinggal dalam hal software dan sistem operasi. Berhubung pasar IT global saat ini lebih mengarah ke software untuk pertumbuhan ke depannya, maka tidak salah beberapa perusahaan Asia ini mulai memperhatikan dengan serius dan mencari solusi untuk menemukan celah pengembangan agar lebih kompetitif di pasar global.