Samsung: TIZEN lebih cocok dengan pasar mobile saat ini dibanding bada


Samsung bersama Intel akan fokus pada pengembangan sistem operasi TIZEN untuk mengimbangi dan mengurangi ketergantungan pada Android. Dilain pihak, langkah ini membuat Samsung meninggalkan bada yang dinilai sudah tidak sesuai dengan perkembangan pasar mobile kedepannya.

Saat konferensi press dihadapan wartawan Korea di acara Mobile World Congress (MWC) 2013 di Barcelona, Spanyol, kemarin, Hong Won-pyo, Presiden Samsung Electronics untuk Media Solution Center (MSC) mengatakan bahwa bada sudah diintegrasikan kedalam TIZEN dan smartphone TIZEN tidak akan menggunakan penamaan model Wave. Seperti kita tahu, TIZEN 2.0 memang telah ditambahkan beberapa fitur dari bada dan framework aplikasi OSP (Open Service Platform) untuk aplikasi native TIZEN.

"Beberapa ekosistem bada kini ada dalam TIZEN," kata Presiden Hong. "Daripada melihat ini sebagai suatu integrasi yang sederhana, lebih baik untuk melihatnya sebagai transisi ke layanan yang lebih baik."

bada dikembangkan secara independen oleh Samsung sebagai sistem operasi tertutup sejak pertama kali diumumkan tahun 2010. Platform ini sejatinya digunakan oleh Samsung untuk bersaing dengan Apple iPhone (Wave high-end) dan smartphone Symbian (Wave low-end). Samsung Wave 3 yang dirilis pada akhir 2011 menjadi perangkat bada yang terakhir. Namun karena pasar mobile sekarang mengarah kepada era ekosistem terbuka dengan perangkat yang mudah dimodifikasi, maka platform TIZEN yang berbasis Linux dianggap lebih cocok dibandingkan dengan bada yang berbasis RTOS.

Perbedaan kernel dan struktur OS antara bada dan TIZEN membuat smartphone bada yang ada saat ini sulit untuk diupgrade ke TIZEN, sama seperti yang dialami oleh perangkat Windows Phone 7 yang tidak bisa diupgrade ke Windows Phone 8. Upgrade software itu mempertahankan kernel dan struktur OS yang sudah ada, sementara memperbaiki dan menambahkan fitur baru diatasnya. Persamaan dari bada dan TIZEN cuma pada framework aplikasi native. Jadi ada harapan Samsung akan menambahkan kompatibilitas aplikasi pada perangkat bada untuk memperluas ekosistem di masa depan.


Menurut Presiden Hong, struktur platform bada sebenarnya tidak sepenuhnya dibuat untuk smartphone yang mengindikasikan bada belum lengkap sebagai smartphone mandiri. Dikembangkan berdasarkan platform SHP (Samsung Handset Platform) yang digunakan oleh deretan feature phone Samsung, penambahan OSP membuat bada bisa menjalankan aplikasi native selain Java MIDP.

Sementara TIZEN dikembangkan bersama oleh produsen hardware dan operator seluler, sehingga memiliki keuntungan daripada Android yang hanya mengandalkan fenomena. Aplikasi native bada juga akan bisa dijalankan di smartphone TIZEN paska integrasi, selain aplikasi web.

"OS TIZEN yang kini sedang dalam pengembangan lebih cocok digunakan di lingkungan perangkat cerdas," kata seorang pejabat dari samsung Electronics. "Namun sebelum itu resmi diluncurkan, kami tidak bisa mengatakan apa-apa."

Menurut situs teknologi CNET, Samsung Electronics berharap bisa merilis smartphone TIZEN pada bulan Juli. Sementara Presiden Samsung Perancis mengatakan TIZEN akan dirilis bulan September.

Apakah bada akan mati? Belum tentu. Jika Samsung ingin mempertahankan TIZEN untuk perangkat high-end, tentunya mereka juga membutuhkan platform mobile untuk perangkat low-end jika nantinya benar-benar meninggalkan Android. Apalagi Samsung menyatakan tidak tertarik dengan Firefox OS, platform mobile baru berbasis web untuk perangkat low-end.

Salah seorang Samsung Evangelist mengatakan bahwa sebenarnya bada tidak mati, namun ditidurkan sementara untuk dibangkitkan kembali suatu saat jika diperlukan. Sejak awal Samsung memang memiliki 2 platform software untuk perangkat mobile, SLP (Samsung Linux Platform) berbasis Linux yang berevolusi menjadi TIZEN, dan SHP berbasis RTOS yang berevolusi menjadi bada. SLP juga pernah tidur lama sejak perangkat terakhir Samsung GT-i8320 dan GT-i6410 yang dirilis tahun 2009 sebelum kehadiran bada dan Android..