HTML5 dan masa depan dari aplikasi web


HTML5, versi terbaru dari bahasa web HTML, menjanjikan untuk menyediakan tool cross-platform yang kuat buat bisnis web dan aplikasi mobile, dan memberikan alternatif untuk pengembang yang sebelumnya berada di lingkungan flash yang dipopulerkan oleh Adobe.

Untuk saat ini, HTML5 belum merupakan produk yang lengkap. HTML5 baru-baru ini menghadapi kritik karena sulit untuk dibuat menulis kode, memiliki dukungan yang kurang konsisten untuk format file audio, dan mengandung kekurangan pada proses debugging, dengan kesalahan yang diizinkan untuk lewat ke tahap run-time bukannya tertangkap pada tingkat compiler.

Namun demikian, sebagai sebuah standar terbuka, banyak pihak dapat bekerja sama untuk memperbaiki set fitur dan fungsionalitas dari HTML5. Sebagai salah satu dari sekian banyak pendukung utama dari perusahaan besar, Intel dan Samsung telah berkomitmen untuk memastikan keberhasilan HTML5 sebagai standar terbuka, memungkinkan pengembang untuk membangun aplikasi yang dapat ditulis sekali tapi berjalan pada berbagai platform, terutama untuk perangkat mobile mobile.

Intel berpendapat bahwa saat ini pengembang software memiliki pilihan sulit dengan tool dan lingkungan aplikasi web. Mereka bisa membuat aplikasi yang sangat inovatif dan interaktif, tetapi aplikasi itu hanya bisa bekerja dengan baik pada beberapa perangkat yang telah mereka dioptimalkan. Atau, mereka bisa melayani spektrum yang lebih luas dari perangkat, namun tidak memiliki tingkat kualitas atau fungsi yang sama dalam aplikasi mereka. Istilah kerennya telah terjadi fragmentasi seperti aplikasi pada Android.

Namun, kata Intel, dengan menstandarisasi HTML5, mereka dapat memiliki yang terbaik dari kedua belah pihak dan bisa mengembangkan aplikasi yang kuat yang berjalan di berbagai perangkat yang berbeda.

Diperkenalkan pada tahun 1990, HTML diciptakan hanya dengan keinginan dalam pikiran, untuk memberikan kepada pengembang sebuah ekosistem pengembangan software terbuka yang dapat digunakan untuk menulis kode yang akan dijalankan di beberapa lingkungan dan perangkat. Dari perspektif bisnis, ini memberikan aplikasi HTML5 sebuah jangkauan pasar yang begitu luas.

Kisaran komputer yang mendukung HTML5 termasuk perangkat didasarkan pada, antara lain, Apple iOS, Google Android, Microsoft Windows dan platform open source TIZEN. Standar itu sendiri mendukung baik versi desktop dan mobile, dan banyak fitur dari HTML5 telah dibangun untuk berjalan pada perangkat bertenaga rendah seperti smartphone dan tablet.

Proyek pengerjaan juga telah dilakukan untuk memungkinkan aplikasi HTML5 untuk berjalan pada prosesor multicore, dengan tujuan membuat aplikasi berbasis web menjadi lebih cepat dan lebih kuat. Proyek itu misalnya kerjasama antara Mozilla dengan Intel yang diberi nama River Trail, yang bertujuan untuk menyediakan paralelisme data untuk aplikasi web.

Proyek ini bertujuan untuk memungkinkan browser berbasis kode HTML5/JavaScript untuk berjalan jauh lebih cepat pada chip dual-core dan quad-core. Hal ini penting karena desktop dan smartphone sudah mulai membakukan prosesor dual-core, setelah chip single-core tidak lagi bisa menyediakan sumber daya komputasi yang sesuai dengan permintaan pengguna.

Banyak fitur baru yang dimasukkan ke dalam HTML5 dirancang untuk mendukung multimedia dan aplikasi yang lebih kompleks dan interaktif.

Untuk multimedia, HTML5 memiliki banyak fitur "sintaksis" baru seperti elemen [video], [audio] dan [kanvas], serta integrasi untuk konten scalable vector graphics (SVG), dan 'MathML' untuk rumus matematika.

Ada juga fasilitas baru untuk menyediakan penyimpanan offline berbasis browser, yang berarti informasi tidak disimpan di server, namun pada perangkat klien. Fitur lainnya adalah geolocation, di mana aplikasi memanfaatkan rincian lokasi secara real time dari pengguna, dan dukungan layar sentuh. HTML5 juga memiliki fitur grafis canggih seperti shadow dan gradien, yang merupakan fitur dari Cascading Style Sheets 3 (CSS3), yang dimasukkan ke dalam HTML5.

Tool seperti ini dirancang untuk memudahkan dalam memasukkan dan menangani konten multimedia dan grafis di web tanpa harus resor ke plugin proprietary dan API. Akibatnya, HTML5 telah menjadi lebih dari pengembangan aplikasi ‘one-stop shop’ dari versi sebelumnya dari bahasa.

HTML5 juga memiliki banyak fitur baru yang dirancang untuk granular yang semakin memudahkan bagi para pengembang, dan membatasi jumlah JavaScript yang harus mereka tulis. JavaScript secara tradisional telah digunakan untuk meningkatkan fungsi program berbasis HTML.

Salah satu bidang utama perbaikan adalah disekitar validasi, yang sekarang dilakukan dalam browser. HTML5 menggabungkan fitur validasi baru seperti mandatory checking, type checking, range dan field length validation, dan meskipun validasi juga dapat dilakukan pada sisi server, tingkatan inspeksi kode ini dapat membuat aplikasi yang lebih kuat.

Dengan HTML5, World Wide Web Consortium (W3C), yang mengembangkan bahasa pemrograman, bertujuan untuk memberikan alternatif yang kuat untuk web lain dan lingkungan pengembangan mobile seperti Adobe Flash dan Microsoft Silverlight, serta platform proprietary dan plug-in.

Saat ini, Flash ada dimana-mana dalam browser, tetapi untuk kedepannya, HTML5 dapat memperoleh adopsi yang sangat luas, terutama ketika mempertimbangkan banyaknya dukungan dari perusahaan IT yang besar.

Langkah ke arah adopsi HTML5 telah dipimpin oleh mesin pencari dan jejaring sosial, seperti misalnya Facebook yang menggunakan HTML5 untuk membangun aplikasi buat Facebook. Mereka mengatakan bahasa pemrograman ini telah memberikan fleksibilitas. Penggunaan tang inovatif dari Facebook untuk aplikasi HTML5 bisa membuka jalan bagi korporasi yang ingin mendukung pengguna perangkat mobile dengan lini aplikasi bisnis.

Ada juga tanda-tanda bahwa lanskap kompetitif telah berubah. Pada Agustus 2011, Adobe mengejutkan komunitas pengembangan web dengan merilis preview dari tool Rich Internet Applications (RIA), yang disebut Edge, yang menampilkan HTML5, serta CSS dan JavaScript. Adobe berpendapat bahwa ada beberapa kasus di mana pengguna Adobe bisa memanfaatkan standar web sebagai alternatif untuk Flash, dan ini dilihat oleh beberapa analis sebagai kudeta untuk HTML5. Adapun Microsoft Silverlight, ini tampaknya akan semakin memudar popularitas sebagai teknologi saingan, meskipun terintegrasi dengan platform pengembangan Visual Studio.

Jalan yang harus dilalui mungkin masih panjang untuk adopsi mainstream. W3C berencana untuk merilis "stable HTML5 recommendation" pada akhir 2014, dan "specification recommendation" untuk HTML 5.1 pada akhir 2016. Namun semakin meningkatnya perubahan teknis dan dukungan dari perusahaan-perusahaan seperti Microsoft, Intel, Facebook, Samsung dan Google bisa berarti bahwa HTML5 mungkin akan bisa mendominasi lanskap browser dan aplikasi mobile yang lebih cepat dari standarisasi W3C.