Intel kerjakan prosesor 48-core untuk smartphone dan tablet


Peneliti Intel saat ini sedang bekerja pada prosesor 48-core untuk smartphone dan tablet, tetapi untuk bisa dirilis di pasar mungkin akan membutuhkan waktu lima sampai 10 tahun.

"Jika kita akan memiliki teknologi ini dalam lima sampai 10 tahun mendatang, akhirnya kita bisa melakukan hal-hal yang bisa mengambil alih kekuatan pemrosesan yang terlalu banyak hari ini," kata Patrick Moorhead, analis dari Moor Insights and Strategy. "Ini benar-benar bisa membuka konsep kita tentang apa itu komputer... Ponsel akan cukup pintar untuk tidak hanya menjadi komputer tapi bisa menjadi komputer saya."

Enric Herrero, seorang ilmuwan riset di Intel Labs di Barcelona, ​​mengatakan bahwa lab mereka sedang bekerja untuk menemukan cara-cara baru untuk mdnggunakan dan mengelola banyak core di perangkat mobile.

Saat ini, beberapa perangkat mobile kecil menggunakan chip multi-core. Namun, CPU multi-core mereka mungkin hanya dual-core atau quad-core yang bekerja dengan beberapa GPU. Memiliki sebuah chip 48-core di perangkat mobile kecil akan membuka kemungkinan dunia yang baru.

Pada titik ini, para peneliti sedang bekerja untuk melihat bagaimana cara terbaik menggunakan core begitu banyak untuk satu perangkat.

"Biasanya prosesor dengan satu core akan melakukan pekerjaan satu demi satu," kata Herrero pada Computerworld. "Dengan beberapa core, mereka dapat membagi pekerjaan di antara mereka."

Dia menjelaskan bahwa dengan banyak core, seseorang bisa, misalnya, akan mengenkripsi email sementara juga bekerja pada plikasi intensif daya lainnya pada waktu yang sama. Hal ini bisa dilakukan saat ini, tetapi operasionalnya mungkin harus terseret-seret karena mereka harus berbagi sumber daya dengan lainnya.

Tanausu Ramirez, ilmuwan peneliti Intel lainnya yang bekerja pada chip 48-core, mengatakan bahwa jika seseorang itu, misalnya, menonton video high-definition (HD), chip 48-core akan dapat menggunakan core yang berbeda untuk memecahkan kode frame video yang berbeda pada saat yang sama, memberikan pengguna pengalaman video yang jauh lebih halus.

Ramirez juga mengatakan bahwa berbeda dengan chip single core yang bekerja pada kapasitas hampir maksimal dan menggunakan banyak energi, banyak core dapat berjalan secara paralel pada proyek-proyek yang berbeda dan menggunakan lebih sedikit energi.

"Chip ini juga dapat mengambil energi untuk membaginya dan mendistribusikannya antara aplikasi yang berbeda," tambahnya.

Justin Rattner, Intel CTO, mengatakan kepada Computerworld bahwa chip 48-core untuk perangkat mobile kecil ini bisa tersedia di pasar "lebih cepat" dari prediksi 10-tahun oleh para peneliti.

"Saya pikir keinginan untuk pindah ke interface yang lebih alami untuk membuat interaksi lebih mirip manusia benar-benar akan mendorong kebutuhan komputasi," katanya. "Memiliki banyak core untuk menghasilkan tingkat kinerja yang sangat tinggi adalah cara yang paling efisien untuk menghemat energi untuk menghadirkan tingkat kinerja terbaik mereka."

Rattner mengatakan fungsi seperti pengenalan suara (speech recognition) dan augmented reality akan mendorong kebutuhan akan daya komputasi yang lebih.

"Jika melakukan pengenalan suara atau computer vision...itu adalah komputasi yang sangat intensif," tambahnya. "Hanya saja tidak praktis untuk hanya mengambil suara dan gambar dan mengirimkannya ke cloud dan berharap bahwa beberapa server akan melakukan tugas-tugas itu. Jadi banyak yang akan terdorong keluar ke perangkat klien."

Rob Enderle, analis dari Enderle Group, mengatakan dengan mampu memiliki fungsi perangkat yang berbeda, serta semua aplikasi berjalan pada core mereka sendiri akan menjadi kemajuan yang besar.

"[Jika]Anda pindah ke model multi-core yang banyak [maka] Anda akan memiliki multi-tasking yang leluasa," katanya. "Anda dapat menjalankan beberapa aplikasi besar dan tidak akan mencuri kinerja satu sama lain. Anda mendapatkan sejumlah besar kinerja di seluruh spektrum dan Anda mendapatkan manfaat dari hal-hal yang bahkan tidak bisa Anda jalankan di PC sekarang. Plus Anda akan mendapatkan baterai yang berpotensi tidak terlalu menguras daya."

Enderle juga menunjukkan bahwa menjalankan core begitu banyak akan membuat ponsel untuk menurunkan skala ketika itu hanya ditempatkan di dompet seseorang atau saku dan kemudian skalanya akan naik kembali ketika sedang digunakan.

Salah satu isu yang dipikirkan oleh para peneliti, adalah memastikan ada software untuk perangkat mobile kecil yang dapat mengambil keuntungan dari core yang begitu banyak.

"Ini merupakan faktor yang akan membatasi," kata Herrero. "Kita perlu memodifikasi sistem operasi dan pengembangan aplikasi, membuatnya menjadi jauh lebih paralel. Sekarang, [memiliki] banyak core tidak masalah jika saya tidak bisa mengambil keuntungan dari itu."

Enderle setuju bahwa hal itu akan menjadi penting untuk memastikan software yang bisa selaras dengan kemajuan dalam hardware.

"Tidak ada banyak aplikasi sekarang untuk menjalankan delapan core, apalagi memanfaatkan 48 core," katanya. "Meskipun pada PC sekarang, itu benar-benar tidak biasa dalam sebuah mesin 8-core untuk menjalankan lebih dari enam core. Menulis untuk multi-core yang banyak... Yah, kita bahkan belum benar-benar mulai untuk melakukan itu hal itu sekarang."

Namun Moorhead memiliki keyakinan bahwa pada saat hardware telah siap, software akan siap juga.

"Lima sampai 10 tahun adalah sedikit dari waktu keabadian dalam teknologi," katanya. "Jika kita akan memiliki teknologi ini dalam lima sampai 10 tahun, [smartphone] tidak akan hanya memiliki satu kamera. Mungkin akan memiliki dua atau tiga kamera yang selalu menyala.. Ini bisa membangun peta tiga dimensi dari apa yang dilihatnya dan melakukan pengenalan obyek. Anda akhirnya bisa melakukan hal-hal yang bisa mengambil alih melalui kekuatan pemrosesan yang terlalu banyak saat ini."

Zeus Kerravala, analis ZK Research, mengatakan bahwa tidak akan pernah kekurangan permintaan untuk kekuatan pemrosesan. Dan dalam 10 tahun, ketika sebuah smartphone dan tablet dengan chip 48-core telah siap untuk pasar, perangkat mungkin akan membutuhkan dorongan itu.

"Saya menduga dalam 10 tahun, perangkat yang kita bawa akan terus menggunakan informasi yang tersedia bagi mereka untuk membuat keputusan yang lebih baik," kata Kerravala. "Jadi streaming lokasi secara kontinu, identitas, semua status kehadiran dan informasi ad-driven akan terus dihitung untuk membantu kita dalam melakukan hal-hal yang kita lakukan menjadi lebih baik dan lebih cepat. Dan saya akan berpikir Anda akan membutuhkan multi-core untuk melakukan semua itu dalam 10 tahun. Entah itu 36 atau 48, siapa tahu."

Moorhead juga memproyeksikan bahwa dengan banyak core dan software yang lebih cerdas, smartphone kita suatu hari nanti bisa menjadi komputer utama kita.

"Salah satu perangkat komputasi milikku ada di tanganku dan ketika aku berjalan ke kantorku, secara otomatis dan nirkabel akan menghubungkan ke layar 30-inci milikku," jelasnya. "Saya punya perangkat sentuh, keybord, sebuah mouse dan suara untuk berinteraksi dengan itu... Ini mengubah seluruh konsep apa itu dan apa yang dapat dilakukan."

Pemaparan konsep dan penerapan teknologi 48-core ini seakan juga menjelaskan slogan terbaru dari sistem operasi open source TIZEN. "Connecting anything with a screen." Sebagai perusahaan hardware sekaligus software, mungkin Intel dan Samsung sudah berpikir sangat jauh tentang masa depan TIZEN. Sama seperti perkataan bapak pemrograman komputer Alan Kay - jika Anda serius dengan software, Anda harus membuat hardware sendiri.